“Katamu, kau seniman sejati.
Yang rela mati ;
hanya tuk sekedar wujudkan mimpi.
Nyatanya, dalam realiti.
Kau diam-diam berlari.
Meninggalkanku dalam lamunan sepi.
Satu tahun ini aku menepi.
Mereka-reka dari berbagai sisi.
Sampai pada akhirnya aku berhenti.
Menyadari kau telah pergi.
Hari ini sudah pasti.
Jika kau kembali nanti.
Aku sudah jatuh hati.
Pada dia yang selalu mendampingi.
Tolong, jangan hakimi.
Caraku menyelamatkan diri.”
―
Yang rela mati ;
hanya tuk sekedar wujudkan mimpi.
Nyatanya, dalam realiti.
Kau diam-diam berlari.
Meninggalkanku dalam lamunan sepi.
Satu tahun ini aku menepi.
Mereka-reka dari berbagai sisi.
Sampai pada akhirnya aku berhenti.
Menyadari kau telah pergi.
Hari ini sudah pasti.
Jika kau kembali nanti.
Aku sudah jatuh hati.
Pada dia yang selalu mendampingi.
Tolong, jangan hakimi.
Caraku menyelamatkan diri.”
―
“IBU -
Aku tak pernah tahu.
Apa itu.
Arti seorang Ibu.
Lalu.
Sampai di satu hari rabu.
Ada bayi membiru.
Lahir dari rahim yang tercabik ngilu.
Dan kamu,
Datang dengan tangisan terbungkam lidah kelu.
Meski merintih bak tersayat sembilu.
Kini, kau dan aku.
Saling menatap haru.
Tersadar, berada di perbatasan babak baru.
Menjadi satu.
Dihujam ribuan peluru.
Atas nama rindu.”
―
Aku tak pernah tahu.
Apa itu.
Arti seorang Ibu.
Lalu.
Sampai di satu hari rabu.
Ada bayi membiru.
Lahir dari rahim yang tercabik ngilu.
Dan kamu,
Datang dengan tangisan terbungkam lidah kelu.
Meski merintih bak tersayat sembilu.
Kini, kau dan aku.
Saling menatap haru.
Tersadar, berada di perbatasan babak baru.
Menjadi satu.
Dihujam ribuan peluru.
Atas nama rindu.”
―
“Kala matahari tenggelam
Benarkah hari berganti malam?
Ah, aku rasa matahari hanya dipaksa diam
Ia tetap pada porosnya, namun cahayanya semakin legam
Seolah-olah ia padam
Begitulah skenario alam
Percayalah padaku kawan, aku yakin betul matahari hanya dipaksa diam
Tampak langit mencakarnya hingga lebam
Babak belur menjadikannya hitam
Alih-alih tak ingin menghantarkan pesan seluruh makhluk yang terpendam
Tak ada malam
Yang ada hanyalah Matahari dipaksa diam.
(Anyer - 13 Januari 2022)”
―
Benarkah hari berganti malam?
Ah, aku rasa matahari hanya dipaksa diam
Ia tetap pada porosnya, namun cahayanya semakin legam
Seolah-olah ia padam
Begitulah skenario alam
Percayalah padaku kawan, aku yakin betul matahari hanya dipaksa diam
Tampak langit mencakarnya hingga lebam
Babak belur menjadikannya hitam
Alih-alih tak ingin menghantarkan pesan seluruh makhluk yang terpendam
Tak ada malam
Yang ada hanyalah Matahari dipaksa diam.
(Anyer - 13 Januari 2022)”
―
“PENCARI NAFKAH DARI GARUT -
Setiap hari betegur sapa dengan semut.
Sesekali tertawa melihat cacing tanah bergelayut.
Pada dahan yang mulai ciut.
Menahun bekerja sampai berkerut.
Hanya tuk mengisi perut.
Harapnya, semoga istri di rumah tidak cemberut.
Melihat lembaran upahnya yang kusut.”
―
Setiap hari betegur sapa dengan semut.
Sesekali tertawa melihat cacing tanah bergelayut.
Pada dahan yang mulai ciut.
Menahun bekerja sampai berkerut.
Hanya tuk mengisi perut.
Harapnya, semoga istri di rumah tidak cemberut.
Melihat lembaran upahnya yang kusut.”
―
“Tidak perlu menjadi perempuan yang mampu mengatur lelaki. Jadilah perempuan yang tidak bisa didikte oleh lelaki.”
―
―
Karunia’s 2025 Year in Books
Take a look at Karunia’s Year in Books, including some fun facts about their reading.
More friends…
Favorite Genres
Polls voted on by Karunia
Lists liked by Karunia





































