“Katakanlah para iblis membangunkanku sebuah istana megah, aku tak ingin menjadi rajanya jika bukan kau yang mendampingiku sebagai ratunya. Rongga hatiku merongrong serupa gorong-gorong yang dibanjiri limbah kerelaan yang palsu.”
―
―
“Tidak perlu menjadi perempuan yang mampu mengatur lelaki. Jadilah perempuan yang tidak bisa didikte oleh lelaki.”
―
―
“OMBAK -
Andai aku dapat lantang berteriak.
Sampai suara ini serak.
Pun, kau tetap menolak.
Bias-bias cahaya berwarna perak.
Enggan bergerak.
Menyeret kenangan yang menyisakan jejak.
Dengan congkak.
Di sebrang sana ada pejantan gagak.
Tertawa menatap mataku yang bengkak.
Tergeletak.
Sadari kalah telak.”
―
Andai aku dapat lantang berteriak.
Sampai suara ini serak.
Pun, kau tetap menolak.
Bias-bias cahaya berwarna perak.
Enggan bergerak.
Menyeret kenangan yang menyisakan jejak.
Dengan congkak.
Di sebrang sana ada pejantan gagak.
Tertawa menatap mataku yang bengkak.
Tergeletak.
Sadari kalah telak.”
―
“Mulanya,
Tempat ini yang paling kucinta.
Bersamamu penuh canda.
Menanti kereta.
Kau temaniku dengan tawa.
Bercerita tentang cita-cita.
Akan hari nantinya kita.
Tak kusangka.
Kini semua berbeda.
Tak lagi kudamba.
Karena selalu ada bayangmu setiap senja.
Andai dapat ku cabik sang surya.
Biar ronanya tak lagi bicara.
Ketika berselang dengan purnama.
Biarkan mereka.
Membaca arti air mata.
Dan rindu dalam balutan doa.
Hanya namamu yang kuuntai dengan sabda.”
―
Tempat ini yang paling kucinta.
Bersamamu penuh canda.
Menanti kereta.
Kau temaniku dengan tawa.
Bercerita tentang cita-cita.
Akan hari nantinya kita.
Tak kusangka.
Kini semua berbeda.
Tak lagi kudamba.
Karena selalu ada bayangmu setiap senja.
Andai dapat ku cabik sang surya.
Biar ronanya tak lagi bicara.
Ketika berselang dengan purnama.
Biarkan mereka.
Membaca arti air mata.
Dan rindu dalam balutan doa.
Hanya namamu yang kuuntai dengan sabda.”
―
“SUDAHLAH -
Sayang, apa kau terlampau lelah ?
Sampai-sampai lengah
.
Malam ini kudapati, tepat di sudut kerah
Ada goresan gincu merah
Terbayang, ciuman liar tak berarah
Entah
Siapa nama perempuan murah
Yang buatku resah
Sibuk menerka berselimut amarah
Barangkali, memang aku payah
Slalu percaya dengan mudah
Pada penjantanku yang gagah
Nyatanya, kau memecah
sekaligus membelah
Mimpi yang terbingkai indah
Sudahlah
Kini, aku pun sudah jengah
Bersamamu hanya kan menambah masalah
Aku menyerah !”
―
Sayang, apa kau terlampau lelah ?
Sampai-sampai lengah
.
Malam ini kudapati, tepat di sudut kerah
Ada goresan gincu merah
Terbayang, ciuman liar tak berarah
Entah
Siapa nama perempuan murah
Yang buatku resah
Sibuk menerka berselimut amarah
Barangkali, memang aku payah
Slalu percaya dengan mudah
Pada penjantanku yang gagah
Nyatanya, kau memecah
sekaligus membelah
Mimpi yang terbingkai indah
Sudahlah
Kini, aku pun sudah jengah
Bersamamu hanya kan menambah masalah
Aku menyerah !”
―
Karunia’s 2025 Year in Books
Take a look at Karunia’s Year in Books, including some fun facts about their reading.
More friends…
Favorite Genres
Polls voted on by Karunia
Lists liked by Karunia





































