“OMBAK -
Andai aku dapat lantang berteriak.
Sampai suara ini serak.
Pun, kau tetap menolak.
Bias-bias cahaya berwarna perak.
Enggan bergerak.
Menyeret kenangan yang menyisakan jejak.
Dengan congkak.
Di sebrang sana ada pejantan gagak.
Tertawa menatap mataku yang bengkak.
Tergeletak.
Sadari kalah telak.”
―
Andai aku dapat lantang berteriak.
Sampai suara ini serak.
Pun, kau tetap menolak.
Bias-bias cahaya berwarna perak.
Enggan bergerak.
Menyeret kenangan yang menyisakan jejak.
Dengan congkak.
Di sebrang sana ada pejantan gagak.
Tertawa menatap mataku yang bengkak.
Tergeletak.
Sadari kalah telak.”
―
“PENCARI NAFKAH DARI GARUT -
Setiap hari betegur sapa dengan semut.
Sesekali tertawa melihat cacing tanah bergelayut.
Pada dahan yang mulai ciut.
Menahun bekerja sampai berkerut.
Hanya tuk mengisi perut.
Harapnya, semoga istri di rumah tidak cemberut.
Melihat lembaran upahnya yang kusut.”
―
Setiap hari betegur sapa dengan semut.
Sesekali tertawa melihat cacing tanah bergelayut.
Pada dahan yang mulai ciut.
Menahun bekerja sampai berkerut.
Hanya tuk mengisi perut.
Harapnya, semoga istri di rumah tidak cemberut.
Melihat lembaran upahnya yang kusut.”
―
“IBU -
Aku tak pernah tahu.
Apa itu.
Arti seorang Ibu.
Lalu.
Sampai di satu hari rabu.
Ada bayi membiru.
Lahir dari rahim yang tercabik ngilu.
Dan kamu,
Datang dengan tangisan terbungkam lidah kelu.
Meski merintih bak tersayat sembilu.
Kini, kau dan aku.
Saling menatap haru.
Tersadar, berada di perbatasan babak baru.
Menjadi satu.
Dihujam ribuan peluru.
Atas nama rindu.”
―
Aku tak pernah tahu.
Apa itu.
Arti seorang Ibu.
Lalu.
Sampai di satu hari rabu.
Ada bayi membiru.
Lahir dari rahim yang tercabik ngilu.
Dan kamu,
Datang dengan tangisan terbungkam lidah kelu.
Meski merintih bak tersayat sembilu.
Kini, kau dan aku.
Saling menatap haru.
Tersadar, berada di perbatasan babak baru.
Menjadi satu.
Dihujam ribuan peluru.
Atas nama rindu.”
―
“SUDAHLAH -
Sayang, apa kau terlampau lelah ?
Sampai-sampai lengah
.
Malam ini kudapati, tepat di sudut kerah
Ada goresan gincu merah
Terbayang, ciuman liar tak berarah
Entah
Siapa nama perempuan murah
Yang buatku resah
Sibuk menerka berselimut amarah
Barangkali, memang aku payah
Slalu percaya dengan mudah
Pada penjantanku yang gagah
Nyatanya, kau memecah
sekaligus membelah
Mimpi yang terbingkai indah
Sudahlah
Kini, aku pun sudah jengah
Bersamamu hanya kan menambah masalah
Aku menyerah !”
―
Sayang, apa kau terlampau lelah ?
Sampai-sampai lengah
.
Malam ini kudapati, tepat di sudut kerah
Ada goresan gincu merah
Terbayang, ciuman liar tak berarah
Entah
Siapa nama perempuan murah
Yang buatku resah
Sibuk menerka berselimut amarah
Barangkali, memang aku payah
Slalu percaya dengan mudah
Pada penjantanku yang gagah
Nyatanya, kau memecah
sekaligus membelah
Mimpi yang terbingkai indah
Sudahlah
Kini, aku pun sudah jengah
Bersamamu hanya kan menambah masalah
Aku menyerah !”
―
“Katamu, kau seniman sejati.
Yang rela mati ;
hanya tuk sekedar wujudkan mimpi.
Nyatanya, dalam realiti.
Kau diam-diam berlari.
Meninggalkanku dalam lamunan sepi.
Satu tahun ini aku menepi.
Mereka-reka dari berbagai sisi.
Sampai pada akhirnya aku berhenti.
Menyadari kau telah pergi.
Hari ini sudah pasti.
Jika kau kembali nanti.
Aku sudah jatuh hati.
Pada dia yang selalu mendampingi.
Tolong, jangan hakimi.
Caraku menyelamatkan diri.”
―
Yang rela mati ;
hanya tuk sekedar wujudkan mimpi.
Nyatanya, dalam realiti.
Kau diam-diam berlari.
Meninggalkanku dalam lamunan sepi.
Satu tahun ini aku menepi.
Mereka-reka dari berbagai sisi.
Sampai pada akhirnya aku berhenti.
Menyadari kau telah pergi.
Hari ini sudah pasti.
Jika kau kembali nanti.
Aku sudah jatuh hati.
Pada dia yang selalu mendampingi.
Tolong, jangan hakimi.
Caraku menyelamatkan diri.”
―
Karunia’s 2025 Year in Books
Take a look at Karunia’s Year in Books, including some fun facts about their reading.
More friends…
Favorite Genres
Polls voted on by Karunia
Lists liked by Karunia





































