Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Sapta Arif N.W..
Showing 1-16 of 16
“Pejamkan matamu perlahan, kemudian masuklah dalam, betapa doa adalah jendela masa depan. Kita harus yakin, oleh sebabnya kita tak boleh berhenti berupaya dan berdoa.”
―
―
“Ingatlah hari di mana kau berdoa untuk sesuatu yang kau punya saat ini. Bersyukurlah.”
― Di Hari Kelahiran Puisi
― Di Hari Kelahiran Puisi
“Menziarahi kenangan, melumat apa-apa saja yang telah menjadi nyata. Barangkali kehilangan adalah cara Tuhan mengajarkan kita tentang kepemilikan.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Aku adalah subjek dan kau adalah predikat. Kita adalah kalimat utuh yang sederhana.”
―
―
“Pejamkan matamu perlahan, kemudian masuklah lebih dalam, betapa doa adalah jendela masa depan. Kita harus yakin, oleh sebabnya kita tak boleh berhenti berupaya dan berdoa.”
―
―
“Bisa jadi, rindu adalah jala-jala yang menangkap kisah untuk dikenangkan.”
―
―
“Apakah kau pernah merasakan kesepian melahap sekujur tubuhmu? Seperti angsa hitam yang memudarkan warnanya di telaga yang sunyi. Di kesendirian malam yang gelap, tanpa bintang, tanpa awan, tanpa angin, hanya gelap yang lebih gelap dari pada gulita.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Jika aku adalah subjek, maka kau adalah predikat. Kita adalah kalimat utuh yang begitu sederhana.”
―
―
“Di sepanjang sejarah ingatanku, seorang pengantar pos adalah jelmaan malaikat Tuhan yang dengan hati riang dan gembira mengantarkan kabar-kabar baik.”
―
―
“Perempuan adalah kota yang sepi, tetapi tidak mati. Ia memiliki banyak persimpangan, mobil tua yang kadang terparkir rapi, tidak jarang pula sembarangan di sudutsudut
jalan. Gedung-gedung yang menjulur tinggi, pemukiman, jalan yang lengang, lampu merah hijau di perempatan, sangat sepi. Namun tidak mati. Dia hanya menunggu, seseorang tinggal di dalamnya. Maka jangan pernah meninggalkan seorang perempuan dalam
kesepian.”
― Di Hari Kelahiran Puisi
jalan. Gedung-gedung yang menjulur tinggi, pemukiman, jalan yang lengang, lampu merah hijau di perempatan, sangat sepi. Namun tidak mati. Dia hanya menunggu, seseorang tinggal di dalamnya. Maka jangan pernah meninggalkan seorang perempuan dalam
kesepian.”
― Di Hari Kelahiran Puisi
“Berani bermimpi sama halnya berani berusaha dan menanggung segala konsekuensinya.”
―
―
“Tuhan menciptakan firasat, tanda-tanda yang selalu tidak bisa kita ungkap bagaimana asal-muasalnya.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Jika Dewi Shinta lebih dulu bertemu Rahwana, akankah dia tetap mencintai Rama, ketika mereka dipertemukan? Mungkinkah jika ia malah mencintai Rahwana? Bukankah
Shinta sosok yang ditakdirkan untuk setia?”
― Di Hari Kelahiran Puisi
Shinta sosok yang ditakdirkan untuk setia?”
― Di Hari Kelahiran Puisi
“Pejamkan matamu perlahan, kemudian masuklah dalam, betapa doa adalah jendela masa depan. Kita yakin, oleh sebabnya kita tak boleh berhenti berupaya dan berdoa,”
―
―
“Mata adalah jebakan. Namun, kejujuran seringkali lahir di ketulusan sebuah tatapan.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Aku mencintaimu tanpa tendensi apapun. Aku ingin mencintaimu tanpa alasan yang memperkuat cintaku padamu. Karena jika alasan itu telah memudar, aku takut cintaku hilang bersama alasanku.”
― Di Hari Kelahiran Puisi
― Di Hari Kelahiran Puisi




