Asmaragama Quotes

Quotes tagged as "asmaragama" Showing 1-6 of 6
Alfin Rizal
“di hatimu, aku ingin menjadi yang tunggal,
bukan sebagai puisi yang dipenggal-penggal
atau orang asing yang tanggal dan kau tinggal”
Alfin Rizal, ASMARAGAMA

Alfin Rizal
“satu-satunya tempat layak huni di bumi
adalah hati kau, sebab ia begitu rahasia,”
Alfin Rizal, ASMARAGAMA

Alfin Rizal
“kau memukau siapa saja yang datang
tetapi tidak padaku, dari dirimu aku
kau tenggelamkan dan hanyut di denyut kau,”
Alfin Rizal, ASMARAGAMA

Alfin Rizal
“di hatimu, aku ingin menjadi yang tetap,
bukan sebagai puisi yang meratap
atau cerita asing yang tak ingin kau tatap”
Alfin Rizal, ASMARAGAMA

Alfin Rizal
“satu-satunya pejam paling kejam adalah mata
yang membayangkan kau di pelukan orang lain”
Alfin Rizal, ASMARAGAMA

Titon Rahmawan
“Khajuraho I

Madu,
di pelataran kuil ini
aku ingin melukis dirimu sekali lagi.
Saat lesap senja menjemput senyap
di puncak candi
dan kelam hasratku menudungi
samar-samar wajahmu dengan tirai kabut misteri.

Tidakkah engkau dengar bulan berbisik:
Madu tidurlah.
Tidurlah Madu, tidurlah.
Tapi jangan kaukunci pintu hatimu supaya aku
bisa merasuk ke dalam mimpimu. Ijinkan aku
mengirai sepasang sayapku
dalam surgamu
yang rumit namun sekaligus juga sederhana.

Lelap, lelaplah engkau dalam pelukanku
atau lenalah di atas pangkuanku.
Duh Madu, Maduku.
Lelaplah, lenalah engkau dalam langut
tembang sirep yang aku lantunkan, supaya dalam gulita sanggar pamujan keramat ini
aku dapat menangkap samar auramu yang suci.

Kau tak perlu malu sebab hujan akan turun malam ini,
dan tubuhmu molek belaka.
Semolek cendayan tubuhmu
masih serupa dulu ketika aku sering membayangkan dirimu
dari balik gerbang malam
yang tertutup ini.
Dengan coreng-moreng kembang boreh pada wajahmu yang putih jenaka.
Dengan segulung setagen hitam yang longgar menggoda.
Dengan kemben tanpa bunga dan jarit lusuh yang itu-itu juga.

Itulah tatahan yang telanjur sempurna
dan tersimpan rapi dalam ingatan. Gambaran yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun.
Seperti sunggingan abadi jari-jemari seorang empu,
dalam lingkung taman kecil tapi menyenangkan ini: semesta
tumpukan batu-batu yang tak kunjung usai engkau tata
dan pahatan asmaragama yang betapa gelora kehangatannya
seperti wangi setanggi yang tak mau pergi.

Serta tentu saja, cermin bersurat yang tersemat
di setiap pintu menuju relung hatimu, yang dengan licin
memantulkan wajah seorang jejaka kolokan tertawan cinta
yang berusaha menyapa dirimu dengan bibir mesumnya
dan juga tatap mata masa lalunya yang selalu sedih.
Sesedih masa lalu yang menatap dirimu dari balik
kesedihan daun-daun palma masa lalunya sendiri.
Sudah begitu lama wajah kasmaran itu
menghuni pikiranku, seperti tak ingin berpaling
dari ingatan sempurna jelita ayu parasmu.

Duh Madu. Maduku. Laksmi pelipur rinduku
Kurma penawar dahagaku. Engkaulah itu Kharjuravāhaka
mengalunlah suaramu dalam alir darahku.
Biar bunyi desah nafasmu yang lembut membelai hijau rerumputan dan
debar detak jantungmu seketika menyingkap rimbun dedaunan.
Embun tajali yang tersembunyi di dalam reruntuhan dadaku yang paling pilu.
Sayap-sayap Jatayu yang meneluh gemetar jejari waktu yang pelan-pelan
berusaha menyibak rahasiamu, membongkar kesakralanmu dengan segala keisengan dan mungkin kenakalan seorang perjaka
dibantun cinta.

Duh Madu, betapa ingin aku menyentuh tubuhmu, membelai
ujung gunung membusung yang menantang kelelakianku.
Menelusuri ceruk-ceruk rahasiamu yang sarat hikmat purbawi.
Elok prasasti yang terhampar permai di hadapanku. Dan lalu
diam-diam kukecup padma di telapak Siwa yang tengah mekar
di permukaan kolam hayatmu.
Hanya untuk menguji betapa
aku tidak sedang terbawa arus mimpi Sungai Godavari.

Serupa kuda Uccaihsrawa yang lepas kendali
sungguh tak hendak aku pungkiri, betapa keras hasratku untuk menundukkanmu
membolak-balik semesta tubuhmu
dan bila mungkin menelanjangimu.
Supaya aku dapat menyelam jauh ke dalam lubuk
pesonamu yang paling liar, melawan mantramu
yang paling bangkar, hanya untuk mengungkap
teka-teki chakra yantra dalam sunyi samadi.
Menjinakkan detya, meremukkan asura dan lalu
menyusun batu-batu parasmu sekali lagi.

Akan tetapi, ketika kelelapanmu menyihir mata batinku,
aura mistis yang meneluh panca inderawiku 
berasa seperti mencubit dan menyentil kesadaranku
betapa sungguh dalam kepasrahanmu itu
engkau tampak begitu indah.
Secercah aruna namun jauh lebih indah dari sekadar basah
hujan lukisan mimpi
lepas dini hari.

November 2015”
Titon Rahmawan