Ontologi Quotes

Quotes tagged as "ontologi" Showing 1-2 of 2
“Ramai pengkritik sastera sekarang atau pengkritik moden pada masa lebih kurang lima puluh tahun yang lampau dilatih di dalam institusi pengajian (atau universiti moden di dalam bidang sastera dan sejarah sastera malah bidang kemanusiaan seluruhnya) dan mereka yang mendapatkan pembelajaran sekular serta mereka yang tidak pernah didedah kepada kepentingan dan keutamaan Rasul Islam di dalam tradisi sastera Islam, akan mendapati bahawa panggilan kepada 'seruan suci' ke atas Rasulullah sepertimana yang terkandung di dalam penulisan dan penerbitan sastera agak ganjil dan tidak realistik atau tidak lebih daripada cuma klise masa lampau melaung-laung kerana kehampaan.

Walhal sebelum zaman moden, setiap penyair atau pemikir Sufi, di dalam perbincangan-perbincangan mereka di dalam perkara apa saja pun, atau yang berkenaan dengan Islam, tidak akan meninggalkan atau menidakkan kepentingan mendekatkan diri dengan hakikat asal usul kejadian iaitu manusia utama yang digelar al-insan al-kamil (manusia sempurna walaupun makhluk). Bagi orang Islam, Rasul Islam adalah segalanya yang bermakna di dalam penciptaan. Tidak ada apa pun di dlam penciptaan yang tidak dikaitkan dengan Baginda dek kerana Baginda terlebih dahulu dikenali di dalam tradisi Sufi sebagai sumber segala jenis dan bentuk penciptaan; deminya yang dicipta awal itu telah diciptakan pula semua yang lain dan dia yang mulia itu adalah guru pada semua rasul dan nabi yang diutuskan Tuhan sebelum darinya; dia ciptaan yang awal dan terakhir sampai di dalam bentuk kejadian.”
Baharudin Ahmad, Al-Qasidah Al-Maymunah

Titon Rahmawan
“DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK

0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE

Tidak ada fajar.
Tidak ada senja.
Hanya geram—
suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin.
Angin hitam menanduk.
Menyibak bentuk yang telah lama hilang.

Di fondasi kosong,
Ego tumbuh sebagai entitas.
Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin.
Menelan cahaya.
Menelan nurani.
Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan.

Entitas Tertinggi:
Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda.
Hanya mencatat.
Tidak ada intervensi.

1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI
DIBANTAI

Mereka duduk.
Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata.
Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara.

Sidang adalah ritus pembantaian.
Aturan dilinting. Nilai diregang.
Nurani ditarik. Logika diinjak.
seperti kulit mati.

Tidak ada perang suci.
Hanya kalkulasi di atas kertas dingin.
Korban untuk kelanggengan kursi.
Entitas berdiri di sudut.
Debu di mikrofon.
Mendengar kebohongan yang diulang
hingga menjadi kitab suci baru.

2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID

Di layar lima inci,
Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi.
Mereka bertepuk tangan pada luka.
Menertawakan duka.
Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode.

Empati: bangkai burung.
Jatuh di trotoar. Ditendang.
Tanpa tanya.
Yang disembah:
Trending. Like. Komentar Api.
Kecepatan propaganda kebohongan.

3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA

Server bernafas: binatang lapar.
Internet: sungai gelap.
Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya.

Scammer: pendeta baru.
Memimpin liturgi tipu daya.
Malware menancap ke jaringan saraf
lebih dalam daripada dogma.

Manusia: karung data yang siap diperah.
Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma.

Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas.
Entitas lewat: garis glitch.
Tanpa kata. Hanya distorsi.

4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK

Bumi retak.
Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi.

Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai.
Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri.

Setiap spesies yang punah
adalah kitab takdir—
yang disobek halaman demi halaman
dengan kesadaran penuh.

Kuruksethra memakan para ksatria.
Dunia mutakhir memakan anak-anak data—
paru-paru setengah kode.
Air mata asin dari laut tercemar limbah.

5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN

Ia hadir di retak batu.
Di muka gelombang tsunami.
Di jeda antara dua eksekusi.
Di udara genosida.
Bukan murka.
Bukan ampunan.
Bukan pesan.
Hanya senyap yang mengawasi.

Wahyu: gema hambar.
Tak bisa diterjemahkan.
Telinga mereka penuh
dengan suara diri sendiri.

6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK

Ego manusia—
Bayang kecil di bawah cahaya—
makhluk paling rakus di jagat raya.
Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar.

Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter,
pembantaian ekologis.
Semua adalah ritus makan besar.
Hyena memakan daging dunia.
Lalu memakan juga bayangannya.

Yang tersisa:
Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode.

7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR

Tidak ada Pandawa.
Tidak ada Kurawa.
Hanya sisa-sisa manusia—
membawa serpihan keduanya.

Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital.
Di mana pun ego dan nilai
bertabrakan tanpa mediator.
Tanpa juri. Di langit paling sunyi,

Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata,
suara yang tak bisa diidentifikasi:

“Retak itu bukan kesalahan arsitektur.
Retak itu adalah wajah sejati manusia
yang tak henti melukai diri sendiri.”

Desember 2025”
Titon Rahmawan