Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Rohmatikal Maskur.
Showing 1-30 of 42
“Aku ingin menjadi awan putih di bawah sinar matahari. Yang meski tak kau minta, diam-diam melindungimu dari terik matahari.”
―
―
“Barangkali, siang hanyalah cara langit menghangatkan sepi. Selepas pagi, berlari dari gelap yang sunyi. Meski nanti akhirnya kembali lagi; pada sepi.”
―
―
“Ada yang tak tenggelam ketika senja datang: Rasa.”
―
―
“Terkadang ada saat dimana gelap malam seakan mampu mengerti kamu lebih dari yang lain. Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian.”
―
―
“Karena langit adalah candu ketika jenuh datang melanda. Membuat mu merasa ada yang mengerti mu ketika dunia menatap mu berbeda”
―
―
“Kita; dua penghuni hujan yang bertemu pada tangisan. Sayangnya ketika hujan reda, ternyata matahari kita berbeda.”
―
―
“Senja adalah rasa yang bertahan, ketika matahari memilih untuk tenggelam. Sebelum akhirnya ditinggal sendirian tanpa cahaya, dalam gelap.”
―
―
“Bahkan langit sore seakan mengejek dalam bisunya. Lewat hening seakan berkata :
"Hei kau manusia bumi, belajarlah menikmati sunyi!”
―
"Hei kau manusia bumi, belajarlah menikmati sunyi!”
―
“Aku ingin kau tahu, ada rindu yang ku titipkan pada bulir hujan di kaca jendela kamarmu. Sayangnya ternyata jendelamu tak berkaca, jadilah rinduku gagal menyapa.”
―
―
“Gelap tidak pernah mengutuk takdirnya. Meski selalu di hina, di benci bahkan dihindari. Entah karna tidak bisa atau memang ikhlas menerima jalannya.”
―
―
“Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran.Entah untuk saling mengirim undangan pernikahan, atau duduk bersama di pelaminan.”
―
―
“Kadang kita hanyalah jiwa yang bisu. Tak mampu berkata kemudian menipu. Berharap baik baik saja, padahal sakit di jiwa. Bilang tak apa apa, tapi berharap tatapan mengapa.”
―
―
“Kadang kita perlu jauh, untuk tau arti dekat. Kadang kita perlu tau letihnya mengejar, untuk memahami makna jalan bersama.”
―
―
“Aku ini lelaki, yang kerap tenggelam dalam secangkir kopi. Yang didalamnya kuaduk sepi, meng-iyakan bahasa hati. Puisiku mati.”
―
―
“Kita; dua jemuran basah yang menunggu kering di bawah hujan.”
―
―
“Gelap kembali mengambang bersama awan. Genderang berbunyi sunyi, dan aku masih mentabukan diriku atas segala harap ini.”
―
―
“Menatap langit sering kali sama seperti menatap diri sendiri.Karenanya bagi kami langit adalah metafora. Cara menyampaikan apa yang kadang terasa begitu aneh untuk di ungkapkan secara gamblang”
―
―
“Senja sejatinya hanya bias. Sedang kamu adalah lakon utama dalam setiap metafora.”
―
―
“Aku pernah mencoba menghapus bayangmu.
Tapi senyummu selalu saja menjadi hujan deras.
Yang membuatku jatuh, tanpa harus tersandung terlebih dahulu.”
―
Tapi senyummu selalu saja menjadi hujan deras.
Yang membuatku jatuh, tanpa harus tersandung terlebih dahulu.”
―
“Aku hanya puisi yang bernafas pada sela. Yang diam-diam memandangmu suka dari antara.”
―
―
“Nikmati nyanyian pagi sendu ini. Mari kembali ke masa yang hanya bisa kita kenang itu dengan menumpang rindu.”
―
―
“Ada yang tetap bersinar meski awan menyelimuti: Matahari.
Ada yang diam-diam merasa, meski bibir tak pernah bicara: Siapa?”
―
Ada yang diam-diam merasa, meski bibir tak pernah bicara: Siapa?”
―
“Ada yang bilang menatap langit sering kali sama seperti menatap diri sendiri.”
―
―
“Nyatanya ada sesuatu yang tak berakhir meski telah berhenti. Kadang “selesai” juga tak selalu bermakna benar benar selesai.”
―
―
“Kadang tanpa sadar kita memperpanjang jarak antara jiwa jiwa, kemudian lupa cara kembali untuk duduk bersama.”
―
―
“Sementara pena hampir kering untuk tinggalkan rasa.Untaian frasa memori masih saja mampu merasuk. Hidupkan kembali impian sang lelaki mimpian.”
―
―
“Akan ada saat dimana kamu mencoba bertahan, tapi merasa itu adalah pilihan yang salah.”
―
―
“Perhatian sejatinya tak selalu berbentuk tanya. Ia kadang hanya sesederhana doa, yang hadir tanpa diminta. Yang tampak tak ada, tapi diam-diam mengiringi langkahmu tanpa tanya.”
―
―
“Bahkan jika pun kita diam, akan selalu ada orang yang menyalahkan ke-diam-an kita. Lalu masihkah kita akan tetap diam? diam atau bersuara? Semuanya kembali menjadi pilihan.”
―
―
“Jarum jam seakan akan berputar kekiri, lalu tiba tiba aku menangis, kemudian tertawa. Nyatanya ini cuma imajinasi. Masa masa itu tetap tak kembali.”
―
―



