Ganda > Ganda's Quotes

Showing 1-30 of 54
« previous 1
sort by

  • #1
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #2
    Pramoedya Ananta Toer
    “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #3
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #4
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #5
    Pramoedya Ananta Toer
    “Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian.”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #6
    Pramoedya Ananta Toer
    “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #7
    Pramoedya Ananta Toer
    “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
    Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

  • #8
    Pramoedya Ananta Toer
    “Saya selalu percaya--dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis--bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #9
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kowé kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #10
    Pramoedya Ananta Toer
    “Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?”
    Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

  • #11
    Pramoedya Ananta Toer
    “Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

  • #12
    Pramoedya Ananta Toer
    “Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.”
    Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

  • #13
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

  • #14
    Pramoedya Ananta Toer
    “Dan kini, Adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, Adikku, bukankah kita tidak perlu menjahati orang lain?”
    Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam

  • #15
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kadang-kadang saya merasa sangat terisolasi. Saya hidup di dunia saya sendiri, dan hal ini seperti berada di pengasingan. Saya tidak tahu apakah orang masih ingin tahu apa yang sebenarnya saya pikirkan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

  • #16
    Pramoedya Ananta Toer
    “Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #17
    Pramoedya Ananta Toer
    “Jangan hanya ya-ya-ya. Tuan terpelajar, bukan yes-man. Kalau tidak sependapat, katakan. Belum tentu kebenaran ada pada pihakku ...”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #18
    Pramoedya Ananta Toer
    “Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati. (Mama, 4)”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

  • #19
    Pramoedya Ananta Toer
    “The fracture of pencil still useful, but the fracture of soul,
    we couldn't use it, Mister.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #20
    Pramoedya Ananta Toer
    “Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #21
    Pramoedya Ananta Toer
    “Hidup dapat memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #22
    Pramoedya Ananta Toer
    “Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #23
    Pramoedya Ananta Toer
    “Seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran! [Bumi Manusia]”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #24
    Pramoedya Ananta Toer
    “Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya, di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah.”
    Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

  • #25
    Pramoedya Ananta Toer
    “.... Dan semua itu berjalan dari detik ke detik, hari ke hari. Akhirnya orang jadi biasa juga dengan keadaannya. Dan mereka, yang tidak kena kerja paksa, tidur sehari-harian, atau berjalan-jalan mengedari pelataran dalam yang sempit itu, mengelamun, berangan-angan. Ya itu pun berjalan saja dan berjalan saja. Kadang-kadang orang tak sempat menginsyafi apa sesungguhnya yang telah dialami sehari-harian. Tapi dengan pasti hidupnya telah gompal sejam demi sejam. Kadang-kadang orang tidak sempat mengenangkan hari-depannya. Orang lebih suka memikirkan hal-hal yang dekat-dekat: makan, buang air, nyanyi, mengobrol tak berkeputusan, memaki-maki, atau mengaduh dengan tiada maksud. Atau-orang memikirkan sesuatu yang jauh, yang besar, yang takkan tercapai oleh tenaga dan tangan manusia-terutama sekali manusia yang dipenjarakan.
    Kemudian..
    Kemudian semua berjalan saja. Berjalan saja. Berjalan saja. Juga umur manusia berjalan mendekati akhirnya. Juga balatentara kedua belah pihak berjalan mendekati keruntuhan atau kemenangannya. Dan tak ada tangan manusia yang kuasaa membatalkan proses itu ...”
    Pramoedya Ananta Toer, Mereka Yang Dilumpuhkan

  • #26
    Pramoedya Ananta Toer
    “Jawanisme dan kolonialisme Jawa sudah bertindak jauh lebih brutal terhadap penduduk yang tinggal di Negara kepulauan yang luas ini daripada yang dulu dilakukan oleh penguasa penjajah asing .”
    Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

  • #27
    Pramoedya Ananta Toer
    “..dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.”
    Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

  • #28
    Pramoedya Ananta Toer
    “Mas, kan kita pernah berbahagia bersama ?"
    "Tentu, Ann."
    "Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #29
    Pramoedya Ananta Toer
    “Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Larasati

  • #30
    Pramoedya Ananta Toer
    “Aku bangga menjadi seorang liberal, Tuan, liberal konsekwen. Memang orang lain menamainya liberal keterlaluan. Bukan hanya tidak suka ditindas, tidak suka menindas, lebih dari itu: tidak suka adanya penindasan ....”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations



Rss
« previous 1