Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following T. Alias Taib.
Showing 1-30 of 62
“perempuan yang sepi
hatinya adalah secawan kopi
perempuan yang sepi
ia minum hatinya sendiri
(perempuan kesepian)”
― Seberkas Kunci
hatinya adalah secawan kopi
perempuan yang sepi
ia minum hatinya sendiri
(perempuan kesepian)”
― Seberkas Kunci
“kerana penulis tak berbakat
mudah mendapat tempat
di hati pembaca
yang tak tau membaca”
― Seberkas Kunci
mudah mendapat tempat
di hati pembaca
yang tak tau membaca”
― Seberkas Kunci
“Allah
aku ingin menghampiri-Mu
bagai kapal pada pelabuhan
lindungi aku
bagai pelabuhan pada kapal”
― Seberkas Kunci
aku ingin menghampiri-Mu
bagai kapal pada pelabuhan
lindungi aku
bagai pelabuhan pada kapal”
― Seberkas Kunci
“ada orang cuba membeli hidup
dengan segala kekayaannya
ternyata mati lebih dulu membelinya”
― Seberkas Kunci
dengan segala kekayaannya
ternyata mati lebih dulu membelinya”
― Seberkas Kunci
“laksana layang-layang dalam pusaran angin
aku terkenangkanmu
laksana pusaran angin tanpa layang-layang
kau kehilanganku”
― Seberkas Kunci
aku terkenangkanmu
laksana pusaran angin tanpa layang-layang
kau kehilanganku”
― Seberkas Kunci
“kadangkala kita amat serba-salah
seharusnya diam kita bersuara
seharusnya bersuara kita diam”
― Seberkas Kunci
seharusnya diam kita bersuara
seharusnya bersuara kita diam”
― Seberkas Kunci
“di ufuk empat puluh aku mulai belajar
memilih isi dari inti
mengambil inti dari erti
mengupas erti dari hidup
aku mulai banyak
bertanya dari menjawab
mencari dari menyepi”
― Seberkas Kunci
memilih isi dari inti
mengambil inti dari erti
mengupas erti dari hidup
aku mulai banyak
bertanya dari menjawab
mencari dari menyepi”
― Seberkas Kunci
“tak mampukah
lagi kita
simpankan suara
hulurkan tangan
gantikan tembok
dengan jambatan?”
― Seberkas Kunci
lagi kita
simpankan suara
hulurkan tangan
gantikan tembok
dengan jambatan?”
― Seberkas Kunci
“pohon tidak
berbuahkan ilmu
sekalipun tumbuh ilmu
kita terpaksa memetiknya
Catatan Sebelum Tidur”
― Piramid
berbuahkan ilmu
sekalipun tumbuh ilmu
kita terpaksa memetiknya
Catatan Sebelum Tidur”
― Piramid
“apa yang kaukejar
kaudapat
apa yang kaudapat
kaukejar
apa yang kaukejar lagi
kau tak dapat
apa yang kau tak dapat
kaukejar lagi
hingga dicekik
halobamu
(bagaimana kalau)”
― Seberkas Kunci
kaudapat
apa yang kaudapat
kaukejar
apa yang kaukejar lagi
kau tak dapat
apa yang kau tak dapat
kaukejar lagi
hingga dicekik
halobamu
(bagaimana kalau)”
― Seberkas Kunci
“segala ikrar dan janji yang dituangnya
ada yang cair bersama air
menjadi lumpur
ada yang reput bersama rumput
menjadi lumut
ada yang dimakan anai-anai
menjadi habuk”
― Seberkas Kunci
ada yang cair bersama air
menjadi lumpur
ada yang reput bersama rumput
menjadi lumut
ada yang dimakan anai-anai
menjadi habuk”
― Seberkas Kunci
“sebentar tadi kaudengar sahabat-sahabatmu
membaca puisi mentah yang mengkhayalkan
sebentar lagi akan kubaca puisi-puisiku
akan kubaca rangkap pedih dalam hidupku
akan kutancap hatimu dengan sebilah pisau
tersimpan dalam kata-kata tajam berkilau
dia pun membaca puisinya penonton terpegun
melihat kertas di tangannya berlumuran darah
(Baca Puisi, 2)”
― Petang Condong
membaca puisi mentah yang mengkhayalkan
sebentar lagi akan kubaca puisi-puisiku
akan kubaca rangkap pedih dalam hidupku
akan kutancap hatimu dengan sebilah pisau
tersimpan dalam kata-kata tajam berkilau
dia pun membaca puisinya penonton terpegun
melihat kertas di tangannya berlumuran darah
(Baca Puisi, 2)”
― Petang Condong
“kau yang ghairah menggayakan
kulitmu
mengapa tidak kaubentangkan
isimu?
(Catatan Tentang Sahabat, 4)”
― Opera
kulitmu
mengapa tidak kaubentangkan
isimu?
(Catatan Tentang Sahabat, 4)”
― Opera
“yang menghulur salam dari jauh itulah pulau
yang menggenggam salam dari dekat adalah semenanjung
yang gementar ditiup angin itulah pulau
yang resah di bawah bulan adalah semenanjung
(Singapura, I)”
― Opera
yang menggenggam salam dari dekat adalah semenanjung
yang gementar ditiup angin itulah pulau
yang resah di bawah bulan adalah semenanjung
(Singapura, I)”
― Opera
“dengan seberkas kunci di tangan
kubuka seribu liang luka
yang sekian lama tertutup
kubiarkan seribu gabus duka
yang mengapung di dalam dada
berkumpul di depan matamu
agar kau mengerti:
makna makmur di tengah lapar
makna harmoni di tengah inflasi
makna mewah di tengah gundah
(kunci)”
― Seberkas Kunci
kubuka seribu liang luka
yang sekian lama tertutup
kubiarkan seribu gabus duka
yang mengapung di dalam dada
berkumpul di depan matamu
agar kau mengerti:
makna makmur di tengah lapar
makna harmoni di tengah inflasi
makna mewah di tengah gundah
(kunci)”
― Seberkas Kunci
“sebatang mancis sudah cukup
untuk membakar hutan pahang
sepatah kata sudah cukup
untuk membakar hutan cinta
(cukup)”
― Seberkas Kunci
untuk membakar hutan pahang
sepatah kata sudah cukup
untuk membakar hutan cinta
(cukup)”
― Seberkas Kunci
“ada orang hidup dan mati
matahari bergolek di kepalanya
ada orang mati dan hidup
bulan melimpah di dadanya
(hidup dan mati)”
― Seberkas Kunci
matahari bergolek di kepalanya
ada orang mati dan hidup
bulan melimpah di dadanya
(hidup dan mati)”
― Seberkas Kunci
“matanya buta tapi lagunya celik
suaranya pedih tapi dunianya jernih
mataku celik tapi laguku buta
suaraku jernih tapi duniaku pedih
(pemain akordion buta)”
― Seberkas Kunci
suaranya pedih tapi dunianya jernih
mataku celik tapi laguku buta
suaraku jernih tapi duniaku pedih
(pemain akordion buta)”
― Seberkas Kunci
“aku adalah rumah api
berdiri dalam senyap di malam gelap,
yang sentiasa memandumu
mengajukmu membelah kabut puisiku.
(Zeroks)”
― Petang Condong
berdiri dalam senyap di malam gelap,
yang sentiasa memandumu
mengajukmu membelah kabut puisiku.
(Zeroks)”
― Petang Condong
“kujaringi bibirmu
dengan jaringku
terkatup matamu
berdegup dadaku
(ingin kukata padamu)”
― Seberkas Kunci
dengan jaringku
terkatup matamu
berdegup dadaku
(ingin kukata padamu)”
― Seberkas Kunci
“ayat-ayat suci adalah jeram yang dingin
mengalir dan menempuh hutan liar
hutan liar adalah diriku
ayat-ayat suci adalah jeram yang bening
aku bercermin membasuh hatiku
(Di Depan Rehal)”
― Opera
mengalir dan menempuh hutan liar
hutan liar adalah diriku
ayat-ayat suci adalah jeram yang bening
aku bercermin membasuh hatiku
(Di Depan Rehal)”
― Opera
“inilah gua segiempatku:
tingkap yang sentiasa menadah udara,
langsir yang menapis cahaya,
meja yang dikepung buku
dan dinding yang menampung
empat lima keping harapan
masa tuaku.
inilah dunia resahku
aku hidup di cahaya separuh terang
mengetam dan melicinkan puisiku
pada kertas yang berselerak.
(Gua)”
― Petang Condong
tingkap yang sentiasa menadah udara,
langsir yang menapis cahaya,
meja yang dikepung buku
dan dinding yang menampung
empat lima keping harapan
masa tuaku.
inilah dunia resahku
aku hidup di cahaya separuh terang
mengetam dan melicinkan puisiku
pada kertas yang berselerak.
(Gua)”
― Petang Condong
“dia adalah pemikir dan intelektual
yang melandaskan penemuannya
pada belakang sejarah yang tajam
(Catatan Tentang Sahabat, I)”
― Opera
yang melandaskan penemuannya
pada belakang sejarah yang tajam
(Catatan Tentang Sahabat, I)”
― Opera
“kerjaku mengajuk tabiat alam.
sudah tiga dekad aku berusaha
meniru tutur angin dan hujan,
melakar marah ribut dan amuk laut.
aku juga turut memindahkan
susunan batu ke dalam susunan kata,
yang bertahun kelu yang bermata sayu
memandang sungai dan pantai.
(Zeroks)”
― Petang Condong
sudah tiga dekad aku berusaha
meniru tutur angin dan hujan,
melakar marah ribut dan amuk laut.
aku juga turut memindahkan
susunan batu ke dalam susunan kata,
yang bertahun kelu yang bermata sayu
memandang sungai dan pantai.
(Zeroks)”
― Petang Condong
“sebuah rumah yang akan
didiami sepasang angsa
sebuah rumah yang akan
dicintai sepanjang usia
(perkahwinan)”
― Seberkas Kunci
didiami sepasang angsa
sebuah rumah yang akan
dicintai sepanjang usia
(perkahwinan)”
― Seberkas Kunci
“pagi itu sebuah buku sajak malaysia
seperti seorang perawan tersipu-sipu
di dalam pelukan seorang penyair kampung
yang kerdil dan terpencil
(sebuah buku sajak malaysia)”
― Seberkas Kunci
seperti seorang perawan tersipu-sipu
di dalam pelukan seorang penyair kampung
yang kerdil dan terpencil
(sebuah buku sajak malaysia)”
― Seberkas Kunci
“kesakitan bagai
ikan dalam arus. tak seorang sedar maut mera-
yap di luar kamar dan tertiarap di antara
gelas-gelas air. lalu bertanya anak: berapa
hari lagi aku harus begini?
(suatu dinihari di sebuah hospital)”
― Seberkas Kunci
ikan dalam arus. tak seorang sedar maut mera-
yap di luar kamar dan tertiarap di antara
gelas-gelas air. lalu bertanya anak: berapa
hari lagi aku harus begini?
(suatu dinihari di sebuah hospital)”
― Seberkas Kunci
“di ufuk empat puluh aku mulai mengumpulkan
berkas kelemahanku yang bertaburan
dalam hutan remajaku
aku mulai memikul
bakul yang berat di belakangku
sarat oleh pengalaman
sarat oleh penemuan
(di ufuk empat puluh)”
― Seberkas Kunci
berkas kelemahanku yang bertaburan
dalam hutan remajaku
aku mulai memikul
bakul yang berat di belakangku
sarat oleh pengalaman
sarat oleh penemuan
(di ufuk empat puluh)”
― Seberkas Kunci
“umpamanya seorang buruh suatu petang
yang sedang membersihkan longkang
sebagai ganti daun kering dan kotoran
ia menyapu potongan-potongan nasib
serpihan-serpihan masa depan dan
doa rakan-rakannya yang bertaburan
(kunci)”
― Seberkas Kunci
yang sedang membersihkan longkang
sebagai ganti daun kering dan kotoran
ia menyapu potongan-potongan nasib
serpihan-serpihan masa depan dan
doa rakan-rakannya yang bertaburan
(kunci)”
― Seberkas Kunci



