Penyair Quotes

Quotes tagged as "penyair" Showing 1-15 of 15
Abdurahman Faiz
“Penyair tak mempunyai tugas lain
kecuali membaca kalbu semesta
dan menangkapnya
dengan hati, getar pena,
bahkan topimu.”
Abdurahman Faiz, Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil

Leila S. Chudori
“Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya.”
Leila S. Chudori, Laut Bercerita

“Berdosakah aku menjadi penyair
kalau yang aku dambakan
adalah hikmah berduri mawar
dan bijaksana berbuah takwa.”
Shamsudin Othman, Kumpulan Puisi Taman Maknawi

Rosli K. Matari
“kalau tidak ada pensel
selalu tumpul dahulu,
aku tidak akan
sepandai ini
untuk menulis puisi.

(Petak, Garis)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

T. Alias Taib
“aku adalah rumah api
berdiri dalam senyap di malam gelap,
yang sentiasa memandumu
mengajukmu membelah kabut puisiku.

(Zeroks)”
T. Alias Taib, Petang Condong

“Selalu kelilingi diri Anda dengan teman-teman yang memiliki banyak cahaya di dalamnya. Dengan begitu, Anda akan selalu memiliki lilin di sekitar Anda saat hari gelap.”
Suzy Kassem, Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem

Rahimidin Zahari
“para penghuni menjadi halimunan
lesap di balik gelombang awan -
yang tinggal hanya nama dan
bayang-bayang; juga sehelai
daun kenangan.

(Sehelai Daun Kenangan)”
Rahimidin Zahari, Kumpulan Puisi: Sehelai Daun Kenangan

Sam Haidy
“Aku (peny)air, kau (peny)air
Tak perlu saling kejar
Ikuti saja (keh)arus(an) masing-masing.
Perlahan menuju la(r)ut”
Sam Haidy, K(a)redo(k) Puisi Jaman Now

T. Alias Taib
“dia adalah penyair kontroversial
yang melontarkan jala puisinya
ke tengah paya pengalamannya

(Catatan Tentang Sahabat, I)”
T. Alias Taib, Opera

Orhan Pamuk
“Hanya penyair termurni yang membiarkan cinta memasuki hatinya dalam masa revolusi.”
Orhan Pamuk, Snow

“Jika ada orang yang menyebut saya penyair, maka saya tidak pernah bermimpi dan berharap disebut penyair, saya bukan penyair, bahkan saya bukan siapa-siapa, saya hanya orang yang ingin mengajak manusia yang lain untuk kembali mencintai kata.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Menulis itu sejatinya hanya perihal komitmen, baik dan buruk itu urusan belakangan.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Selama masih ada orang yang membaca, maka penyair manapun pasti akan abadi dalam karya-karyanya.”
Robi Aulia Abdi

Titon Rahmawan
“Puisi yang Menolak Jadi Puisi

Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa.
Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu:
segala yang mencoba kusebut “puisi”
hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri.

Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan.
Biarlah aku menuliskan sesuatu
yang tidak ingin memiliki irama,
tidak ingin dipuji,
tidak ingin dikenang.

Sebab apa gunanya metafora
jika seluruh luka telah menolak
dibungkus oleh keindahan?
Apa gunanya diksi
jika ada kebenaran yang terlalu telanjang
untuk diberi pakaian?

Aku menghapus semua perumpamaan.
Aku menghapus semua simbol.
Aku menghapus semua milikku
yang pernah tampak seperti seni.

Biarkan yang tersisa hanya satu hal:
aku yang tidak sanggup berbohong lagi.

Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku,
membuangnya ke dalam sumur paling gelap
tempat suara tidak kembali
dan renungan pun mati tanpa gema.

Sebab setiap kali aku menulis,
aku merasa sedang mencurangi hidup.
Aku membuat jejak-jejak palsu,
mengunggulkan penderitaan
seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga.

Padahal kebenarannya sederhana
dan kasar:
aku menulis karena aku tidak tahu cara lain
untuk menghentikan diriku dari kehancuran.
Dan hari ini,
bahkan itu pun tidak berhasil.

Kalau saja aku bisa,
aku ingin menanggalkan semua bentuk.
Tidak ada baris-baris.
Tidak ada jeda.
Tidak ada frasa yang memikat.
Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri
tanpa belas kasihan.

Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur,
bukan sebagai kalimat yang indah.
Aku ingin hadir sebagai kegagalan,
bukan sebagai karya yang menaklukkan.
Aku ingin hadir sebagai manusia,
bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan.

Jadi inilah aku:
duduk di antara puing-puing huruf,
memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku.

Aku menolak estetika
sebagaimana tubuh menolak racun.

Aku menolak menjadi penyair
karena malam ini
aku hanya ingin menjadi seseorang
yang berhenti menghindari dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya,
yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi—
melainkan kemungkinan
bahwa puisi yang kutulis selama ini
tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun,
bahkan aku sendiri.

Dan jika demikian,
maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku:

Puisi yang ingin menjadi luka,
bukan bahasa.

Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak,
bukan frasa yang tanpa cela.

Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci,
bukan topeng yang kukagumi.

Puisi yang menolak menikamkan kecantikan,
dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar.

Puisi yang menolak menjadi puisi,
karena barangkali—
ini satu-satunya cara
aku bisa kembali menjadi manusia.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Anatomi Sebuah Penolakan

Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap
dengan sorot mata benda mati
yang muak menjadi cermin
bagi siapa saja.

Kau berkata:
Aku bukan puisi
dan kau bukanlah penyair.
Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka,
lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya.

Dan aku terdiam—
seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri.

Kau menolak metafora,
menepis ritme,
menghancurkan rima
seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu
yang sengaja kupasangkan padamu
agar dunia merasa nyaman membaca sakitku.

Kau menudingku:
“Kau ingin selamat, bukan?
Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya—
padahal kau hanya gemetar mencari alasan
untuk membenarkan retak di dalam dirimu.”

Kata-katamu membekukan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada amarah.
Hanya keheningan logam
yang menancap ngilu pada tulangku.

Lalu kau memutuskan diri:
Aku tidak akan memeluk siapa pun.
Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci.
Aku tidak akan memaafkan penulismu.
Aku tidak akan memberi katharsis.

“Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,”
katamu.
“Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan
pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.”

Dan aku berdiri di hadapanmu
seperti tubuh yang kehilangan bayangan
menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam
daripada sebuah puisi
yang memilih untuk tidak menyelamatkan.

Kau membalik halaman.
Kau memadamkan seluruh api kemungkinan.

Dan aku,
untuk pertama kalinya,
mengerti bahwa kepenyairan
bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin
atas keberadaanku sendiri.

Puisi bukan untuk ditahbiskan,
katamu.
Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati
demi kesunyiannya sendiri.

November 2025”
Titon Rahmawan