Kosmologi Quotes

Quotes tagged as "kosmologi" Showing 1-9 of 9
“Jika Bumi berhenti berputar, maka menurut hukum Newton benda apapun yang tak terikat ke Bumi bakal terus bergerak dengan kecepatan perputaran Bumi (1100 mil per jam atau 1770 km per jam di khatulistiwa)”
Stephen Hawking, The Grand Design

Titon Rahmawan
“SUNYA RURI

Dalam ruang yang menelan semua suara,
sebelum gema sempat lahir,
aku mendengarnya—
batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir.

Ia tidak datang sebagai ancaman,
tidak pula sebagai pelipur,
melainkan sebagai bayangan purba
yang pernah berdiri di sampingku
ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia.

"Monggo pinarak..." bisiknya lirih,
selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah.
"Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani,"
"kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga."

Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami.
Suwung tidak membutuhkan jawaban.
Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh.

Lewat tatapannya yang tidak berkelopak,
aku melihat ulang diriku sendiri
seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan:
detik ketika harapan direbahkan,
detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku
tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri—
nyeri atau ketidakpastian.

"Ngertenono..."
bisiknya lembut,
seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat.
"Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu
sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka—
ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara."

Aku menelan kekosongan itu.
Suwung memiringkan tubuhnya pelan,
seakan menghirup aroma ketakutanku
seperti kemenyan yang baru menyala.

“Apa tresna mbingungake atimu?”
suara itu menelusup lembut.

"Sliramu takon jujuring liyan,
déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra
kang wus dadi jubah ngebaki raga—
nganti awakmu lali,
ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.”
"Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan,
amung nedya nemu kulit garing
tanpa isèn-isèn katresnan.”

Kesunyian mengental.
Ia menaruh telinganya di dadaku
seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya.

“Payokna..." bisiknya lirih
"Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu
kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah,
arep tinampa ing bebrayan agung,
lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.”
"Nanging, apa artiné tentrem,
yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan?
Bukakna lawang sanggar kasepèn,
sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng."

Ia menutup mata.
Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh.

“Swara kuwi…”
bisiknya hampir tak terdengar,

"Kaya déné cempening mendha ing padhang,
kang lumayu ing palataran laramu kang lawas."
"Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban,
nanging awit dheweke wis ngerteni:
yèn sliramu tan nate bali
kanggo nylametke."

Tubuhku gemetar.
Suwung tersenyum tipis,
seperti retakan kecil pada batu padas.

“Lara Ati..."
ucapnya lirih.
“Kuwi satunggaling sato alus.
Dheweke tansah ngentèni.
Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi.
Dheweke lungguh—
kaya déné aku—
kanthi sabar nunggu wektu,
nalika sliramu pungkasané wani
mandheg anggènira lumayu.”

Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang.

“Sliramu kepéngin dadi béda,”
suara itu meluncur lembut,
“nanging, kamulyan tan lair saka panulakan.
Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr
kang wani mbukak gapura dhiri
kang njalari kalbunira gumeter.”

Ia bergerak mendekat.
Bisikannya menusuk pori-poriku:

“Yèn sliramu kepéngin sirep
saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..."
"Sliramu kudu bali.
Mulih menyang papan kang sinengker
ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.”

Aku memejamkan mata.

Dan saat itulah aku paham—
kesunyian bukan lagi musuh,
bukan lagi kehampaan yang mencekik,
melainkan satu-satunya suara
yang sanggup menampung semua jeritan.
tanpa murka
tanpa pamrih
tanpa vonis
hanya ikhlas.

Desember 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG

I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan
dari Pintu yang Keliru

Pada malam kelahiranmu,
waktu tersandung kaki sendiri.
Wuku yang mestinya sunyi
tiba-tiba retak
seperti periuk jatuh ke tanah—
pertanda luka di bibir desa:
“janma ing mangsa tan ana pancer.”
Ia yang lahir tanpa pusat,
tanpa tempat menambat napas.

Ibu menjerit tanpa suara,
tali terputus penghubung jiwa
tumpas ruh tak terlihat,
ia yang disebut orang:
buta mangili,
perusak garis nasib sendiri.
Langit merah mengucur darah
hewan kurban
disembelih untuk ruwatan.

II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah

Ranting-ranting kering merunduk
di bawah cahaya purnama raya.
Angin malam menggigil
menyebut nama dalam lafal
yang paling ganjil—
tidak lembut, tidak akrab,
dunia yang menolak
mengakui kehadirannya.

Makhluk sawah makhluk rimba
mengembik, melenguh, melolong,
lalu pergi tanpa menoleh.
“Anak durjana,” bisik mulut-mulut
dari balik pintu berpalang jati.
“Kelahiran yang ditolak bumi,
tidak dibawa lintang waluku.”

Dan seorang lelaki
kehilangan kewarasan,
menggantung diri di pohon randu
layang kendat pratanda pati.
Bayang Sukerta ing mongso ketigo
Suryasengkala: Anggatra Rasa
Tunggal Sirna

III. Sinom — Upacara Penolak Bala

Para tetua menggelar sesaji:
jajan pasar, kemenyan arang gosong,
jenang sengkolo, tumpeng robyong,
pala pendem, sego golong,
banyu kendi sendang keramat,
cengkir gading, kembang telon,
seekor sapi tumpah darahnya
dipersembahkan
memetakan arah sengkala
yang membayangi.

Doa-doa terlontar seperti tombak,
menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam.
Bisik roh tanah memburu mimpi:
“Dudu salahé, nanging ora ana
sing wani ngakoni.”

Rumah pertama mengeras
pada telunjuk
terbakar serupa kutuk
tangan makhluk tak kasat mata.
Angin selatan mengamuk,
membawa hama,
membawa isyarat celaka.
Nama berhembus
seperti dongeng petaka
berbisik dari bibir ke bibir.

IV. Dhandanggula — Kisah Panjang
yang Tak Mau Mati

Tahun berganti musim,
dan cerita tumbuh seperti jamur
merasuk ruh para leluhur
di dinding lembab ingatan orang.
Mereka bilang; ia hanya setengah manusia—
setengah anak padi,
setengah anak badai.
Lahir dari rahim peristiwa
hingar-bingar yang tak pernah
benar-benar dipahami.

Mitos menyebut:
“janma saka papat kiblat,
kang nggawa lamur saka kidul.”

Seekor ular membelit takdir
menampak diri di belakang bukit
bukan binatang, kata mereka.
barangkali saudara tua
yang gagal lahir, kata yang lain
penjaga kubur tak pernah tidur.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG

V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari

Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.

Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.

VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu

Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.

Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.

Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.

VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri

Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.

Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.

ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.

Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.

“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”

Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.

Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.

VIII. Pocung — Penutup Takdir

Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”

Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.

Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.

Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.

Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.

Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.

Desember 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Variasi Suluk Tambangraras                         
Buku Kesembilan
: Elizabeth D. Inandiak

Inilah jantra sang Amongraga:
sedhakep awe-awe.
Serupa lintah yang lapar dan haus tenggelam dalam api samadi,
pulut ngelangut dalam pertapaan, terbuai bunyi gending Ladrang Rarangis. Tembang lamat-lamat mengalun,
batin lanjur tercebur dalam suara kidung Tri Kawula Gusana.
Seperti getah memikat balam, mambang terbang ngawang uwung ke jantung pulung.
Merangsek rubeda. Menjimak paksa ruda pari peksa Randa Sembada.

Matak aji jaran goyang: memagut bibir, menggerayang pinggang, meremas sintal buah dada.
Sungguh tiada beda watak manusia atau kera.
Jati ketlusupan ruyung.
Seratus lembing memburai usus menembus jantung.
Merasuk mabuk di bantun kidung Catur Wanara Rukem.

Gamelan sakti mengukir mimpi, memaksa turun dewi hapsari,
melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu.
Basah lidah menganak tuak.
Sloki demi sloki menantang mati.
Pada bunyi gong ke-12
kidung Sapta Kukila Wresa,
melupa umur, mengulur timba sembarang sumur.
Lupa japa segala mantra.
Lupa jampi segala kendi.
Di tempur Sungai Centhini
muntah api segala farji.

Rubuh segala tubuh.
Muspra segala radi.
Obah polah segala salah.
Singkap segala wadi.
Klenthing wadhah masin.
Bergaung kidung Nawa Wagra Lupa, menjelmalah ia jadi ular sawah yang menelan mentah-mentah seratus gajah. Bumi berputar bagai gasingan.
Bulan berjumpalitan seperti monyet kena tulup.
Sepuluh liman gergasi terkapar mati digempur nafsu tiada terbendung.

Tapi belum lagi usai kidung pamungkas, diteluhnya purusa lingga sang gandarwa hingga mengejang di sela-sela paha. Lembing mendesing menembus langit, telanjur kepayang menunggangi malam. Menyungsang batang pisang, memamah daun keladi.
Mabuk berat menimba hasrat,
hingga muncrat segala hayat.

Maret 2011”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh

Ada suara lama yang memanggilmu.
Bukan tembang, bukan kidung,
melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya,
mengambang di udara seperti serpihan mimpi
yang tak pernah selesai ditidurkan.

Kau mencoba menjadikannya doa.
Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh;
ia menetes di antara sela-sela tulang,
merembes perlahan
ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun.

Tubuhmu,
yang dulu kau banggakan sebagai altar,
kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali
semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan.
Ia berdengung pelan,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup
di tengah badai yang tak memilih korban.

Kau menyebutnya laku.
Padahal lebih tepat disebut pelarian.
Segala mantra yang kau pacu ke langit
jatuh kembali ke wajahmu,
meninggalkan jelaga tipis
yang tak pernah sempat kau bersihkan.

Ada malam-malam
ketika engkau merasa disentuh sesuatu
yang lebih tua dari dirimu sendiri.
Bukan dewa,
bukan malaikat,
hanya bayang yang ingin
menumpang tidur
di tubuh yang kau biarkan terbuka.

Setiap keinginan
meninggalkan lubang baru.
Setiap lubang
menuntut satu lagi bagian dari dirimu.
Begitu seterusnya,
hingga kau tak tahu lagi
mana yang lebih dalam:
hasratmu,
atau kehampaan yang memanggilmu pulang.

Ada denting jauh—
suara yang mengingatkanmu
betapa kecilnya engkau
di hadapan gelap yang terus tumbuh.
Gelap itu tidak mengancam.
Ia hanya menunggu.
Seperti seseorang yang tahu
bahwa semua jalan, pada akhirnya,
akan kembali kepadanya.

Kau pernah mengejar ekstase
seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit.
Kini engkau tahu:
setiap cahaya menyisakan abu,
dan abunya menempel di napasmu
sepanjang malam.

Ritual gagal.
Bukan karena kurangnya mantra,
melainkan karena tubuh
tak lagi percaya
pada apa pun selain retakan.

Engkau mencoba melupakan,
tapi bahkan lupa pun
memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Ia mengintai dari balik kelopak mata,
menunggu kau lengah
agar bisa merayap masuk
dan menduduki detak jantungmu.

Pada akhirnya,
semua suara yang kau puja
kembali padamu—
bukan sebagai wahyu,
melainkan sebagai sunyi
yang tak bisa kaubunuh.

Sunyi itu berdiri di ambang pintu,
mengangkat wajahnya perlahan,
dan kau melihat dirimu sendiri
di dalam retakannya.

Tidak ada ekstase.
Tidak ada penebusan.
Hanya tubuh
yang menua di hadapan gelap.
Dan gelap
yang sabar menunggu
kau berhenti melawan.

Desember 2025.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Variasi Suluk Tembang Raras – Genealogi Saras Dialogis

Saras berdiri di ambang pintu yang bahkan tidak ia kenali.
Di belakangnya masa lalu menetes seperti air yang sulit ia tampung;
di depannya masa kini bergetar, kabur, seolah baru saja dicetak dari
bayangan yang salah mengingat dirinya.

Ia tidak tahu pintu mana yang benar.
Ia hanya tahu retakan yang makin melebar itu menggigil,
memanggil sesuatu yang lebih tua dari bahasa,
lebih tajam dari ketakutan.

Maka muncullah suara pertama—dingin, berdebu,
seperti batu yang lama disembunyikan malam.

SUWUNG:
"Kau mencari jawaban, anak waktu.
Namun dirimu sendiri masih bayang di balik kaca.
Mana yang kau pilih: jejak yang tak dapat kembali,
atau dunia yang selalu mengkhianatimu dengan wujud baru?"

Saras menunduk. Ia tidak paham apakah ia sedang ditanya,
atau sedang dihakimi.

Lalu suara kedua muncul—lebih hangat,
lebih manusiawi, tapi tetap menyimpan sesuatu yang liar.

AMONGRAGA:
"Jangan kau kira masa kini lebih benar dari mimpimu.
Tubuhmu menyimpan ingatan yang lebih jujur dari akalmu.
Mengapa kau biarkan logika dan nafsu bertengkar
di ruang sempit dadamu?"

Saras menggigit bibirnya.
Ia tahu suara itu berbicara tentang kegelisahan
yang ia simpan seperti batu panas di bawah lidah:
keinginan untuk melompat ke gelap,
tapi juga ketakutan akan cahaya yang telanjang.

SARAS (berbisik):
"Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya.
Yang di masa lalu terasa asing,
yang di masa kini kabur,
yang di masa depan meragukan.
Semua pintu bagiku seperti ilusi."

Suara Suwung dan Amongraga saling bersilangan,
seperti dua arus sungai yang menolak bercampur.

SUWUNG:
"Itu karena kau terlalu percaya pada batas.
Hitam–putih hanyalah cara dunia memudahkan dirinya sendiri.
Kesadaranmu bukan padat, ia kabut; biarkan ia bentuk dirinya."

AMONGRAGA:
"Namun jangan abaikan tubuhmu.
Tubuh tahu duluan apa yang rohmu sembunyikan.
Tidak semua ilusi adalah kebohongan;
kadang ia hanya anak bungsu dari kenyataan."

Saras terdiam.
Ia tidak ingin menjadi perantara dua dunia;
Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Namun setiap kali ia mencari dirinya,
yang ia temukan adalah paradoks baru.

Suara Suwung merayap lembut:

SUWUNG:
"Ambang adalah rumahmu.
Kau bukan dicipta untuk memilih,
tetapi untuk mengungkap apa yang membuat pilihan itu mungkin."

Suara Amongraga menambahkan:

AMONGRAGA:
"Dan jangan takut pada keinginanmu sendiri.
Kadang nafsu lebih jujur daripada pikiran yang pura-pura bijak."

Saras mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kali, ia melihat bahwa retakan itu
bukan ancaman—melainkan peta.

Ia tidak perlu memilih pintu.
Ia adalah pintu itu sendiri.

Dan ketika ia menyadari itu,
suara Suwung dan Amongraga
tidak hilang atau pergi—
mereka kembali diam
di tempat mereka lahir:

kedalaman dirinya sendiri.

Desember 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga

1.
AMONGRAGA:
Aku mendengarmu dari jauh—
gema yang berjalan tanpa tubuh,
seperti bayang yang lupa asalnya.
Apa yang kau cari di celah-celah
gelap ini?

SUWUNG:
Aku tidak mencari.
Aku hanya diam.
Diam yang terlalu lama,
hingga berubah menjadi bentuk
yang tak punya nama.

2.
AMONGRAGA:
Diam juga bagian dari suluk.
Ia jembatan menuju terang.
Mengapa kau menjadikannya liang?

SUWUNG:
Karena terangmu terlalu ribut.
Dan setiap mantra yang kau sebut
meninggalkan debu di nafas manusia.

3.
AMONGRAGA:
Aku berjalan dari kidung ke kidung,
dari tubuh ke tubuh,
hingga segala kenikmatan
mengungkit pintu-pintu wahyu.

SUWUNG:
Aku tahu.
Itulah jejak yang kau tinggalkan
di dada sejarah.
Tapi apa yang kau temukan?
Selain tubuh yang terus meminta
tanpa pernah selesai?

4.
AMONGRAGA:
Aku mencari puncak.
Puncak yang melampaui dunia.
Di sanalah aku menanggalkan daging
seperti menanggalkan bayang-bayangku.

SUWUNG:
Dan aku mencari dasar.
Dasar yang menelan dunia.
Dasar tempat segala suara berhenti
dan hanya retakan yang berbicara.

5.
AMONGRAGA:
Retakan juga bisa menjadi jendela.
Mengapa kau memilih menjadikannya rumah?

SUWUNG:
Karena rumah yang kau buat
ditopang oleh api.
Aku lelah menjadi tubuh
yang terus kau bakar
demi sebuah cahaya
yang tak pernah sampai.

6.
AMONGRAGA:
Lalu mengapa kau datang padaku?
Mengapa engkau memanggil namaku
dari jauh—
seperti anak yang kehilangan jalan pulang?

SUWUNG:
Aku ingin tahu
apakah seseorang sepertimu
pernah merasa kosong.
Atau kau memang menutupinya
dengan nyala yang memabukkan.

7.
AMONGRAGA:
Aku tak pernah kosong.
Aku penuh.
Penuh dengan bunyi,
dengan tubuh-tubuh,
dengan api yang naik turun
seperti nafas yang tak mau padam.

SUWUNG:
Maka di sanalah perbedaan kita.
Engkau penuh.
Dan aku kosong.
Tapi keduanya
sama-sama tak menjawab
apa-apa.

8.
AMONGRAGA:
Apa itu yang kau sebut suwung?
Hening yang menolak segala bentuk?

SUWUNG:
Suwung adalah tempat
di mana setiap jawaban
mati sebelum sempat disebutkan.
Sebuah ruang
yang tidak ingin menang.
Tidak ingin selamat.
Tidak ingin terlahir kembali.

9.
AMONGRAGA:
Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku?

SUWUNG:
Aku ingin melihat
apa yang tetap berada pada dirimu
ketika seluruh kidungmu
aku bungkam.
Ketika seluruh tubuhmu
aku lepaskan.
Ketika seluruh cahaya
aku padamkan.

10.
AMONGRAGA:
Dan apa yang kau lihat?

SUWUNG:
Hanya satu hal:
bahwa bahkan engkau pun,
pada akhirnya,
adalah pintu yang tidak menuju
siapa-siapa.

11.
AMONGRAGA:
Jika aku pintu,
maka mengapa engkau tidak masuk?

SUWUNG:
Karena tidak ada apa pun di dalam.
Dan tidak ada apa pun di luar.
Yang ada hanyalah aku.
Dan bahkan aku
tidak sedang mencari diriku sendiri.

12.
AMONGRAGA:
Kalau begitu,
mengapa engkau tetap berdiri
di ambangku?

SUWUNG:
Karena di antara terangmu yang berisik
dan gelapku yang sunyi,
ambang adalah satu-satunya tempat
yang tidak memaksaku memilih.

13.
AMONGRAGA:
Engkau suluk yang patah.
Suluk yang menolak puncak.

SUWUNG:
Dan engkau
adalah doa yang terlalu keras
hingga lupa
bagaimana cara menjadi sunyi.

Desember 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“TRIPTIK TRIMURTI KEMBANG: SANGKAN PARANING DUMADI

(Kidung Kosmogonis dalam Tiga Siklus Penciptaan)

I. PADMA — ”Wiji Brahman ing Samudra Pradhana”

Padma muncul dari lumpur hening mula-mula,
dari titik suwung yang terbelah.
Bukan lumpur bumi, tapi lumpur Pradhana
tempat materi masih samar dan belum bernama.

Ia tegak laksana sabda dadi
yang diucapkan oleh Hyang Wening,
sebuah mantra yang melupakan lidah pertamanya
sebab ia adalah getaran sebelum waktu ada.

Air di sekelilingnya memucat,
bukan air semenjana, melainkan Tirta Kamandanu yang beku,
menahan napas di tepi Bhurloka,
mendengar derap para resi sejati
yang berjalan melintasi batas kesadaran tanpa bayangan.

Kelopak itu membuka diri
bukan sebagai bunga, melainkan sebagai Candi Tirtayasa,
sebuah yoni retak, menolak menyimpan rahasia Manikmaya
yang lebih tua dari ingatan para dewa.

Di ujung daun,
menggantung aksara tunggal yang menggigil—
cahaya yang pernah menjadi sumbu jagad,
sebelum bhagawan waktu membebaskannya kembali
ke dalam nirwana sunyi.

Padma tidak mekar untuk Tri Loka.
Ia mekar untuk Kalpasastra
yang telah kehilangan pusat kosong-nya.
Ia adalah kembalinya Yang Tak Pernah Pergi.

II. KEMUNING — ”Jiwatman ing Mandala Bhuwahloka”

Kemuning menggantung di udara madya loka,
seperti Sasmitaning Gusti yang tertunda,
sebuah gapura yang gagal menjejak tanah perwujudan.

Kuningnya bukanlah warna,
tetapi wanci kencana,
yang terhambur dari perut akasa,
ketika para hyang niskala
meninggalkan panggung bhuwana.

Di permukaan kelopaknya,
aku melihat lintasan rekaman karmaphala yang halus,
serupa prasasti kuno
yang tergores di pupil mata ketiga.

Kemuning berdiri di antara dua suwung:
Suwung Pradhana sebelum cipta,
Suwung Pralaya setelah bubar.
Ia tidak memikat bhramara, kumbang pengecap madu.
Ia memikat Dharma.

Dan laku jiwa datang seperti bayu prana, sang angin kehidupan:
dinginnya adalah disiplin, patahnya adalah pengertian, kaburnya adalah waskita,
membawa kabar lelampahan
dari arah yang tidak pernah dipertanyakan jejer manungsa.

III. MAWAR — ”Maya Sukma lan Titah Wusananing Jagad”

Mawar tumbuh dari celah watu waringin
yang ditinggalkan api tunggal sedalam tiga yuga.
Merahnya bukan darah manungsa,
tetapi gema tapa brata yang pernah terbakar
oleh rasa sejati yang telah melampaui vedana.

Duri-durinya tegak laksana panah cakra, pusaran energi
yang menolak bergerak,
sebab tahu setiap gerak
adalah pengkhianatan kecil pada keabadian wiyata.

Ketika ananta bayu, angin tak berakhir melewati tubuhnya,
aku mendengar suara lirih,
serupa Gending Gadhung Mangkara,
yang dimainkan di ruangan Swa-loka,
tempat roh-roh purba masih belajar
mengenali wujud niskala mereka sendiri.

Mawar menguasai medan Karmala
bukan dengan kecantikan fana,
melainkan dengan tatu kasampurnan
yang tahu bagaimana menjaga dirinya
tetap tak bernama
di hadapan takdir.

Dan pada puncak kelopaknya,
suwung sejati duduk
menunggu wekasane tumitah
yang bahkan Hyang Wening
belum berkenan memberi tafsir.

Desember 2025”
Titon Rahmawan