Tradisi Quotes
Quotes tagged as "tradisi"
Showing 1-15 of 15
“Dengan segala kehebatannya dalam dunia keilmuan, tengoklah bagaimana sikap 'tahu diri' seorang al-Ghazali. Beliau tetap menempatkan dirinya di bawah mazhab Shafii dalam soal metodologi ushul fiqh. Beliau tidak merasa lebih hebat dari Shafii. Banyak ilmuan besar Islam tetap memelihara sikap adil dan beradab dalam mengkaji dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat.”
― Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam
― Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam
“Yang penting diingati ialah tatkala kita mahu kembali menggali dari tradisi yang lalu, kita harus bersedia untuk memilih tradisi yang dapat mengembangkan kemanusiaan kita masakini, bukan pula dari tradisi budaya yang membelenggu dan mengkerdilkan keperibadian, pandangan dunia dan sistem nilai.”
― Bahasa dan Tantangan Intelektualisme
― Bahasa dan Tantangan Intelektualisme
“Terkadang kelompok yang anti madzhab menggugat kita dengan pendapat sang pendiri madzhab atau para ulama dalam madzhab yang kita ikuti, seakan-akan mereka lebih konsisten dari kita dalam bermadzhab. Kaum Wahhabi ketika menggugat kita agar meninggalkan tahlilan dan selamatan tujuh hari selalu beralasan dengan pendapat al-Imam as-Syafi'i yang mengatakan bahawa hadiah pahala bacaan al-Qur'an tidak akan sampai kepada mayit, atau pendapat kitab I'anah al-Thalibin yang melarang acara selamatan tahlilan selama tujuh hari. Padahal selain al-Imam as-Syafi'i menyatakan sampai.
Kita kadang menjadi bingung menyikapi mereka. Terkadang mereka menggugat kita karena bermadzhab, yang mereka anggap telah meninggalkan al-Qur'an dan Sunnah. Dan terkadang mereka menggugat kita dengan pendapat imam madzhab dan apra ulama madzhab. Padahal mereka sering menyuarakan anti madzhab.
Pada dasarnya kelompok anti madzhab itu bermadzhab. Hanay saja madzhab mereka berbeda dengan madzhab mayoritas kaum Muslimin. Ketika mereka menyuarakan anti tawassul, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Abdil Wahhab al-Najdi. Sedangkan kaum Muslimin yang bertawassul, mengikuti Rasulullah SAW, para sahabat, seluruh ulama salaf dan ahli hadits.
Ketika mereka menyuarakan shalat tarawih 11 raka'at, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Nashiruddin al-Albani, seorang tukang jam yang beralih profesi menjadi muhaddits tanpa bimbingan seorang guru, dengan belajar secara otodidak di perpustakaan. Sedangkan kaum Muslimin yang tarawih 23 raka'at, mengikuti Sayidina Umar, para sahabat dan seluruh ulama salaf yang saleh yang tidak diragukan keilmuannya.
Ketika mereka menyuarakan anti madzhab, maka sebenarnya mereka mengikut Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan Ibn Abdil Wahhab. Sedangkan kaum Muslimin yang bermadzhab, mengikuti ulama salaf dan seluruh ahli hadits. Demikian pula ketika mereka menyuarakan anti bid'ah hasanah, makas ebenarnya mereka mengikuti madzhab Rasyid Ridha dan Ibn Abdil Wahhab al-Najid. Sedangkan kaum Muslimin yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, mengikuti Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, para sahabat, ulama salaf dan hali hadits.”
― Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi
Kita kadang menjadi bingung menyikapi mereka. Terkadang mereka menggugat kita karena bermadzhab, yang mereka anggap telah meninggalkan al-Qur'an dan Sunnah. Dan terkadang mereka menggugat kita dengan pendapat imam madzhab dan apra ulama madzhab. Padahal mereka sering menyuarakan anti madzhab.
Pada dasarnya kelompok anti madzhab itu bermadzhab. Hanay saja madzhab mereka berbeda dengan madzhab mayoritas kaum Muslimin. Ketika mereka menyuarakan anti tawassul, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Abdil Wahhab al-Najdi. Sedangkan kaum Muslimin yang bertawassul, mengikuti Rasulullah SAW, para sahabat, seluruh ulama salaf dan ahli hadits.
Ketika mereka menyuarakan shalat tarawih 11 raka'at, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Nashiruddin al-Albani, seorang tukang jam yang beralih profesi menjadi muhaddits tanpa bimbingan seorang guru, dengan belajar secara otodidak di perpustakaan. Sedangkan kaum Muslimin yang tarawih 23 raka'at, mengikuti Sayidina Umar, para sahabat dan seluruh ulama salaf yang saleh yang tidak diragukan keilmuannya.
Ketika mereka menyuarakan anti madzhab, maka sebenarnya mereka mengikut Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan Ibn Abdil Wahhab. Sedangkan kaum Muslimin yang bermadzhab, mengikuti ulama salaf dan seluruh ahli hadits. Demikian pula ketika mereka menyuarakan anti bid'ah hasanah, makas ebenarnya mereka mengikuti madzhab Rasyid Ridha dan Ibn Abdil Wahhab al-Najid. Sedangkan kaum Muslimin yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, mengikuti Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, para sahabat, ulama salaf dan hali hadits.”
― Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi
“masa depan tertulis
di tangan penguasa
yang bijaksana akan
mengatur dan merakam
kejadian; manakala
yang dungu
memusuhi kelisanan.
(Awang Batil)”
― Kumpulan Puisi: Sehelai Daun Kenangan
di tangan penguasa
yang bijaksana akan
mengatur dan merakam
kejadian; manakala
yang dungu
memusuhi kelisanan.
(Awang Batil)”
― Kumpulan Puisi: Sehelai Daun Kenangan
“SUNYA RURI
Dalam ruang yang menelan semua suara,
sebelum gema sempat lahir,
aku mendengarnya—
batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir.
Ia tidak datang sebagai ancaman,
tidak pula sebagai pelipur,
melainkan sebagai bayangan purba
yang pernah berdiri di sampingku
ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia.
"Monggo pinarak..." bisiknya lirih,
selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah.
"Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani,"
"kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga."
Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami.
Suwung tidak membutuhkan jawaban.
Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh.
Lewat tatapannya yang tidak berkelopak,
aku melihat ulang diriku sendiri
seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan:
detik ketika harapan direbahkan,
detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku
tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri—
nyeri atau ketidakpastian.
"Ngertenono..."
bisiknya lembut,
seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat.
"Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu
sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka—
ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara."
Aku menelan kekosongan itu.
Suwung memiringkan tubuhnya pelan,
seakan menghirup aroma ketakutanku
seperti kemenyan yang baru menyala.
“Apa tresna mbingungake atimu?”
suara itu menelusup lembut.
"Sliramu takon jujuring liyan,
déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra
kang wus dadi jubah ngebaki raga—
nganti awakmu lali,
ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.”
"Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan,
amung nedya nemu kulit garing
tanpa isèn-isèn katresnan.”
Kesunyian mengental.
Ia menaruh telinganya di dadaku
seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya.
“Payokna..." bisiknya lirih
"Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu
kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah,
arep tinampa ing bebrayan agung,
lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.”
"Nanging, apa artiné tentrem,
yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan?
Bukakna lawang sanggar kasepèn,
sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng."
Ia menutup mata.
Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh.
“Swara kuwi…”
bisiknya hampir tak terdengar,
"Kaya déné cempening mendha ing padhang,
kang lumayu ing palataran laramu kang lawas."
"Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban,
nanging awit dheweke wis ngerteni:
yèn sliramu tan nate bali
kanggo nylametke."
Tubuhku gemetar.
Suwung tersenyum tipis,
seperti retakan kecil pada batu padas.
“Lara Ati..."
ucapnya lirih.
“Kuwi satunggaling sato alus.
Dheweke tansah ngentèni.
Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi.
Dheweke lungguh—
kaya déné aku—
kanthi sabar nunggu wektu,
nalika sliramu pungkasané wani
mandheg anggènira lumayu.”
Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang.
“Sliramu kepéngin dadi béda,”
suara itu meluncur lembut,
“nanging, kamulyan tan lair saka panulakan.
Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr
kang wani mbukak gapura dhiri
kang njalari kalbunira gumeter.”
Ia bergerak mendekat.
Bisikannya menusuk pori-poriku:
“Yèn sliramu kepéngin sirep
saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..."
"Sliramu kudu bali.
Mulih menyang papan kang sinengker
ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.”
Aku memejamkan mata.
Dan saat itulah aku paham—
kesunyian bukan lagi musuh,
bukan lagi kehampaan yang mencekik,
melainkan satu-satunya suara
yang sanggup menampung semua jeritan.
tanpa murka
tanpa pamrih
tanpa vonis
hanya ikhlas.
Desember 2025”
―
Dalam ruang yang menelan semua suara,
sebelum gema sempat lahir,
aku mendengarnya—
batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir.
Ia tidak datang sebagai ancaman,
tidak pula sebagai pelipur,
melainkan sebagai bayangan purba
yang pernah berdiri di sampingku
ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia.
"Monggo pinarak..." bisiknya lirih,
selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah.
"Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani,"
"kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga."
Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami.
Suwung tidak membutuhkan jawaban.
Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh.
Lewat tatapannya yang tidak berkelopak,
aku melihat ulang diriku sendiri
seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan:
detik ketika harapan direbahkan,
detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku
tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri—
nyeri atau ketidakpastian.
"Ngertenono..."
bisiknya lembut,
seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat.
"Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu
sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka—
ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara."
Aku menelan kekosongan itu.
Suwung memiringkan tubuhnya pelan,
seakan menghirup aroma ketakutanku
seperti kemenyan yang baru menyala.
“Apa tresna mbingungake atimu?”
suara itu menelusup lembut.
"Sliramu takon jujuring liyan,
déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra
kang wus dadi jubah ngebaki raga—
nganti awakmu lali,
ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.”
"Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan,
amung nedya nemu kulit garing
tanpa isèn-isèn katresnan.”
Kesunyian mengental.
Ia menaruh telinganya di dadaku
seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya.
“Payokna..." bisiknya lirih
"Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu
kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah,
arep tinampa ing bebrayan agung,
lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.”
"Nanging, apa artiné tentrem,
yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan?
Bukakna lawang sanggar kasepèn,
sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng."
Ia menutup mata.
Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh.
“Swara kuwi…”
bisiknya hampir tak terdengar,
"Kaya déné cempening mendha ing padhang,
kang lumayu ing palataran laramu kang lawas."
"Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban,
nanging awit dheweke wis ngerteni:
yèn sliramu tan nate bali
kanggo nylametke."
Tubuhku gemetar.
Suwung tersenyum tipis,
seperti retakan kecil pada batu padas.
“Lara Ati..."
ucapnya lirih.
“Kuwi satunggaling sato alus.
Dheweke tansah ngentèni.
Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi.
Dheweke lungguh—
kaya déné aku—
kanthi sabar nunggu wektu,
nalika sliramu pungkasané wani
mandheg anggènira lumayu.”
Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang.
“Sliramu kepéngin dadi béda,”
suara itu meluncur lembut,
“nanging, kamulyan tan lair saka panulakan.
Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr
kang wani mbukak gapura dhiri
kang njalari kalbunira gumeter.”
Ia bergerak mendekat.
Bisikannya menusuk pori-poriku:
“Yèn sliramu kepéngin sirep
saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..."
"Sliramu kudu bali.
Mulih menyang papan kang sinengker
ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.”
Aku memejamkan mata.
Dan saat itulah aku paham—
kesunyian bukan lagi musuh,
bukan lagi kehampaan yang mencekik,
melainkan satu-satunya suara
yang sanggup menampung semua jeritan.
tanpa murka
tanpa pamrih
tanpa vonis
hanya ikhlas.
Desember 2025”
―
“BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan
dari Pintu yang Keliru
Pada malam kelahiranmu,
waktu tersandung kaki sendiri.
Wuku yang mestinya sunyi
tiba-tiba retak
seperti periuk jatuh ke tanah—
pertanda luka di bibir desa:
“janma ing mangsa tan ana pancer.”
Ia yang lahir tanpa pusat,
tanpa tempat menambat napas.
Ibu menjerit tanpa suara,
tali terputus penghubung jiwa
tumpas ruh tak terlihat,
ia yang disebut orang:
buta mangili,
perusak garis nasib sendiri.
Langit merah mengucur darah
hewan kurban
disembelih untuk ruwatan.
II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah
Ranting-ranting kering merunduk
di bawah cahaya purnama raya.
Angin malam menggigil
menyebut nama dalam lafal
yang paling ganjil—
tidak lembut, tidak akrab,
dunia yang menolak
mengakui kehadirannya.
Makhluk sawah makhluk rimba
mengembik, melenguh, melolong,
lalu pergi tanpa menoleh.
“Anak durjana,” bisik mulut-mulut
dari balik pintu berpalang jati.
“Kelahiran yang ditolak bumi,
tidak dibawa lintang waluku.”
Dan seorang lelaki
kehilangan kewarasan,
menggantung diri di pohon randu
layang kendat pratanda pati.
Bayang Sukerta ing mongso ketigo
Suryasengkala: Anggatra Rasa
Tunggal Sirna
III. Sinom — Upacara Penolak Bala
Para tetua menggelar sesaji:
jajan pasar, kemenyan arang gosong,
jenang sengkolo, tumpeng robyong,
pala pendem, sego golong,
banyu kendi sendang keramat,
cengkir gading, kembang telon,
seekor sapi tumpah darahnya
dipersembahkan
memetakan arah sengkala
yang membayangi.
Doa-doa terlontar seperti tombak,
menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam.
Bisik roh tanah memburu mimpi:
“Dudu salahé, nanging ora ana
sing wani ngakoni.”
Rumah pertama mengeras
pada telunjuk
terbakar serupa kutuk
tangan makhluk tak kasat mata.
Angin selatan mengamuk,
membawa hama,
membawa isyarat celaka.
Nama berhembus
seperti dongeng petaka
berbisik dari bibir ke bibir.
IV. Dhandanggula — Kisah Panjang
yang Tak Mau Mati
Tahun berganti musim,
dan cerita tumbuh seperti jamur
merasuk ruh para leluhur
di dinding lembab ingatan orang.
Mereka bilang; ia hanya setengah manusia—
setengah anak padi,
setengah anak badai.
Lahir dari rahim peristiwa
hingar-bingar yang tak pernah
benar-benar dipahami.
Mitos menyebut:
“janma saka papat kiblat,
kang nggawa lamur saka kidul.”
Seekor ular membelit takdir
menampak diri di belakang bukit
bukan binatang, kata mereka.
barangkali saudara tua
yang gagal lahir, kata yang lain
penjaga kubur tak pernah tidur.”
―
DI TANAH SUWUNG
I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan
dari Pintu yang Keliru
Pada malam kelahiranmu,
waktu tersandung kaki sendiri.
Wuku yang mestinya sunyi
tiba-tiba retak
seperti periuk jatuh ke tanah—
pertanda luka di bibir desa:
“janma ing mangsa tan ana pancer.”
Ia yang lahir tanpa pusat,
tanpa tempat menambat napas.
Ibu menjerit tanpa suara,
tali terputus penghubung jiwa
tumpas ruh tak terlihat,
ia yang disebut orang:
buta mangili,
perusak garis nasib sendiri.
Langit merah mengucur darah
hewan kurban
disembelih untuk ruwatan.
II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah
Ranting-ranting kering merunduk
di bawah cahaya purnama raya.
Angin malam menggigil
menyebut nama dalam lafal
yang paling ganjil—
tidak lembut, tidak akrab,
dunia yang menolak
mengakui kehadirannya.
Makhluk sawah makhluk rimba
mengembik, melenguh, melolong,
lalu pergi tanpa menoleh.
“Anak durjana,” bisik mulut-mulut
dari balik pintu berpalang jati.
“Kelahiran yang ditolak bumi,
tidak dibawa lintang waluku.”
Dan seorang lelaki
kehilangan kewarasan,
menggantung diri di pohon randu
layang kendat pratanda pati.
Bayang Sukerta ing mongso ketigo
Suryasengkala: Anggatra Rasa
Tunggal Sirna
III. Sinom — Upacara Penolak Bala
Para tetua menggelar sesaji:
jajan pasar, kemenyan arang gosong,
jenang sengkolo, tumpeng robyong,
pala pendem, sego golong,
banyu kendi sendang keramat,
cengkir gading, kembang telon,
seekor sapi tumpah darahnya
dipersembahkan
memetakan arah sengkala
yang membayangi.
Doa-doa terlontar seperti tombak,
menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam.
Bisik roh tanah memburu mimpi:
“Dudu salahé, nanging ora ana
sing wani ngakoni.”
Rumah pertama mengeras
pada telunjuk
terbakar serupa kutuk
tangan makhluk tak kasat mata.
Angin selatan mengamuk,
membawa hama,
membawa isyarat celaka.
Nama berhembus
seperti dongeng petaka
berbisik dari bibir ke bibir.
IV. Dhandanggula — Kisah Panjang
yang Tak Mau Mati
Tahun berganti musim,
dan cerita tumbuh seperti jamur
merasuk ruh para leluhur
di dinding lembab ingatan orang.
Mereka bilang; ia hanya setengah manusia—
setengah anak padi,
setengah anak badai.
Lahir dari rahim peristiwa
hingar-bingar yang tak pernah
benar-benar dipahami.
Mitos menyebut:
“janma saka papat kiblat,
kang nggawa lamur saka kidul.”
Seekor ular membelit takdir
menampak diri di belakang bukit
bukan binatang, kata mereka.
barangkali saudara tua
yang gagal lahir, kata yang lain
penjaga kubur tak pernah tidur.”
―
“BALADA RANTING KERING
DI TANAH SUWUNG
V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.
Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.
VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu
Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.
Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.
Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.
VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri
Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.
Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.
ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.
Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.
“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”
Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.
Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.
VIII. Pocung — Penutup Takdir
Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”
Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.
Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.
Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.
Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.
Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.
Desember 2025”
―
DI TANAH SUWUNG
V. Durma — Kebrutalan
yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa itu kau tumbuh
seperti pohon hilang akar.
Orang-orang melihat
ranting garing layak dibakar.
Tangan-tangan mengusirmu,
kata-kata meludahkan kutuk,
dunia menyumpahimu
tawa sinis nasib buruk.
Namun kau tetap hidup,
walau setengahnya hancur
di tangan kemalangan.
Ada serpih mantra tua
yang mengendap dalam dada—
bukan sakti yang menyelamatkan,
melainkan sakti yang terus bertahan
melawan dunia membabi-buta
hasrat yang ingin menyudahi takdir.
VI. Pangkur — Nafsu Waktu
yang Ingin Menegukmu
Makhluk-makhluk tanpa nama
membayang langkah:
bayangan panjang,
aroma tanah basah,
bisik-bisik menjalar
seperti patuk taring ular
di bawah runduk
pokok bambu.
Mereka melihat jazad
bersumpah yang nir wujud
kadang jalma seperti hewan,
kadang manusia tak berwajah
kadang bayang menekuk cahaya,
kadang tubuh kosong tanpa ruh
gentong penuh suara-suara hilang
melesap dari masa lalu.
Kisah kembali ke orang desa
kabar buruk yang malas mati.
Terbawa angin serupa pesan,
dipindahkan tangan serupa kayu
sekeras batu tonggak peringatan,
diulang mantra jopa-japu
doa menakar langit hitam
menyapu malam paling sangit.
VII. Megatruh — Jiwa
yang Memisahkan Diri
Malam paling wingit adalah pisau.
Bilah tajam memotong bayangan
hingga terlihat inti terdalam.
Di sana kau menyaksi bisu:
cahaya kecil, ringkih dan rapuh,
bergetar seperti bayi
mencari ibu.
ia bukan hantu yang menakutimu.
Ia bukan kutuk yang menempel
di napasmu.
Ia adalah separuh jiwa
yang tak sempat menjadi tubuh.
Ruh mendekat perlahan.
Tangannya bening, seperti embun
yang tidak berhasil jatuh ke daun.
Ranting garing
yang bukan sampah—
gores luka pohon purba
yang pernah menyimpan
cahaya suci.
“Bukan kau yang diusir,”
bisiknya melalui dingin yang merambat.
“Akulah yang tidak sempat hidup—
dan kaulah rumah terakhirku.”
Dadamu retak
menampung tangis yang tak bersuara.
Untuk pertama kalinya
kau tidak takut pada kesunyian—
karena kau tahu kesunyian itu
adalah anak kecil
yang kini duduk di pangkuanmu
mencari dunia
yang pernah menolaknya.
VIII. Pocung — Penutup Takdir
Pertanyaan arkais kembali menggigil:
“Kapan cendala akan berakhir?”
“Kapan asal ditatap tanpa gentar?”
Kubur itu tak pernah ada.
Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya.
Tidak ada batu nisan yang menuliskan
napas yang gagal menjadi bayi.
Namun malam ini,
ketika kau berdiri di Tanah Suwung,
ada satu pancer yang kembali—
perlahan, lirih, takjub.
Suwung membuka tubuhnya
dan menaruh ia di tengah-tengahnya
sebagai cahaya yang terlalu kecil
untuk menerangi dunia,
namun cukup
untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu sendiri.
Ia yang dulu hilang
akhirnya menemukan pusatnya.
Dan ranting kering yang dulu dicampakkan
kini berdiri tegak
menyimpan dua jiwa—
satu yang hidup
satu yang tidak sempat—
keduanya akhirnya lengkap
di bawah langit
yang tidak lagi menolak
kehadiranmu.
Desember 2025”
―
“Variasi Suluk Tambangraras
Buku Kesembilan
: Elizabeth D. Inandiak
Inilah jantra sang Amongraga:
sedhakep awe-awe.
Serupa lintah yang lapar dan haus tenggelam dalam api samadi,
pulut ngelangut dalam pertapaan, terbuai bunyi gending Ladrang Rarangis. Tembang lamat-lamat mengalun,
batin lanjur tercebur dalam suara kidung Tri Kawula Gusana.
Seperti getah memikat balam, mambang terbang ngawang uwung ke jantung pulung.
Merangsek rubeda. Menjimak paksa ruda pari peksa Randa Sembada.
Matak aji jaran goyang: memagut bibir, menggerayang pinggang, meremas sintal buah dada.
Sungguh tiada beda watak manusia atau kera.
Jati ketlusupan ruyung.
Seratus lembing memburai usus menembus jantung.
Merasuk mabuk di bantun kidung Catur Wanara Rukem.
Gamelan sakti mengukir mimpi, memaksa turun dewi hapsari,
melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu.
Basah lidah menganak tuak.
Sloki demi sloki menantang mati.
Pada bunyi gong ke-12
kidung Sapta Kukila Wresa,
melupa umur, mengulur timba sembarang sumur.
Lupa japa segala mantra.
Lupa jampi segala kendi.
Di tempur Sungai Centhini
muntah api segala farji.
Rubuh segala tubuh.
Muspra segala radi.
Obah polah segala salah.
Singkap segala wadi.
Klenthing wadhah masin.
Bergaung kidung Nawa Wagra Lupa, menjelmalah ia jadi ular sawah yang menelan mentah-mentah seratus gajah. Bumi berputar bagai gasingan.
Bulan berjumpalitan seperti monyet kena tulup.
Sepuluh liman gergasi terkapar mati digempur nafsu tiada terbendung.
Tapi belum lagi usai kidung pamungkas, diteluhnya purusa lingga sang gandarwa hingga mengejang di sela-sela paha. Lembing mendesing menembus langit, telanjur kepayang menunggangi malam. Menyungsang batang pisang, memamah daun keladi.
Mabuk berat menimba hasrat,
hingga muncrat segala hayat.
Maret 2011”
―
Buku Kesembilan
: Elizabeth D. Inandiak
Inilah jantra sang Amongraga:
sedhakep awe-awe.
Serupa lintah yang lapar dan haus tenggelam dalam api samadi,
pulut ngelangut dalam pertapaan, terbuai bunyi gending Ladrang Rarangis. Tembang lamat-lamat mengalun,
batin lanjur tercebur dalam suara kidung Tri Kawula Gusana.
Seperti getah memikat balam, mambang terbang ngawang uwung ke jantung pulung.
Merangsek rubeda. Menjimak paksa ruda pari peksa Randa Sembada.
Matak aji jaran goyang: memagut bibir, menggerayang pinggang, meremas sintal buah dada.
Sungguh tiada beda watak manusia atau kera.
Jati ketlusupan ruyung.
Seratus lembing memburai usus menembus jantung.
Merasuk mabuk di bantun kidung Catur Wanara Rukem.
Gamelan sakti mengukir mimpi, memaksa turun dewi hapsari,
melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu.
Basah lidah menganak tuak.
Sloki demi sloki menantang mati.
Pada bunyi gong ke-12
kidung Sapta Kukila Wresa,
melupa umur, mengulur timba sembarang sumur.
Lupa japa segala mantra.
Lupa jampi segala kendi.
Di tempur Sungai Centhini
muntah api segala farji.
Rubuh segala tubuh.
Muspra segala radi.
Obah polah segala salah.
Singkap segala wadi.
Klenthing wadhah masin.
Bergaung kidung Nawa Wagra Lupa, menjelmalah ia jadi ular sawah yang menelan mentah-mentah seratus gajah. Bumi berputar bagai gasingan.
Bulan berjumpalitan seperti monyet kena tulup.
Sepuluh liman gergasi terkapar mati digempur nafsu tiada terbendung.
Tapi belum lagi usai kidung pamungkas, diteluhnya purusa lingga sang gandarwa hingga mengejang di sela-sela paha. Lembing mendesing menembus langit, telanjur kepayang menunggangi malam. Menyungsang batang pisang, memamah daun keladi.
Mabuk berat menimba hasrat,
hingga muncrat segala hayat.
Maret 2011”
―
“Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh
Ada suara lama yang memanggilmu.
Bukan tembang, bukan kidung,
melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya,
mengambang di udara seperti serpihan mimpi
yang tak pernah selesai ditidurkan.
Kau mencoba menjadikannya doa.
Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh;
ia menetes di antara sela-sela tulang,
merembes perlahan
ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun.
Tubuhmu,
yang dulu kau banggakan sebagai altar,
kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali
semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan.
Ia berdengung pelan,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup
di tengah badai yang tak memilih korban.
Kau menyebutnya laku.
Padahal lebih tepat disebut pelarian.
Segala mantra yang kau pacu ke langit
jatuh kembali ke wajahmu,
meninggalkan jelaga tipis
yang tak pernah sempat kau bersihkan.
Ada malam-malam
ketika engkau merasa disentuh sesuatu
yang lebih tua dari dirimu sendiri.
Bukan dewa,
bukan malaikat,
hanya bayang yang ingin
menumpang tidur
di tubuh yang kau biarkan terbuka.
Setiap keinginan
meninggalkan lubang baru.
Setiap lubang
menuntut satu lagi bagian dari dirimu.
Begitu seterusnya,
hingga kau tak tahu lagi
mana yang lebih dalam:
hasratmu,
atau kehampaan yang memanggilmu pulang.
Ada denting jauh—
suara yang mengingatkanmu
betapa kecilnya engkau
di hadapan gelap yang terus tumbuh.
Gelap itu tidak mengancam.
Ia hanya menunggu.
Seperti seseorang yang tahu
bahwa semua jalan, pada akhirnya,
akan kembali kepadanya.
Kau pernah mengejar ekstase
seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit.
Kini engkau tahu:
setiap cahaya menyisakan abu,
dan abunya menempel di napasmu
sepanjang malam.
Ritual gagal.
Bukan karena kurangnya mantra,
melainkan karena tubuh
tak lagi percaya
pada apa pun selain retakan.
Engkau mencoba melupakan,
tapi bahkan lupa pun
memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Ia mengintai dari balik kelopak mata,
menunggu kau lengah
agar bisa merayap masuk
dan menduduki detak jantungmu.
Pada akhirnya,
semua suara yang kau puja
kembali padamu—
bukan sebagai wahyu,
melainkan sebagai sunyi
yang tak bisa kaubunuh.
Sunyi itu berdiri di ambang pintu,
mengangkat wajahnya perlahan,
dan kau melihat dirimu sendiri
di dalam retakannya.
Tidak ada ekstase.
Tidak ada penebusan.
Hanya tubuh
yang menua di hadapan gelap.
Dan gelap
yang sabar menunggu
kau berhenti melawan.
Desember 2025.”
―
Ada suara lama yang memanggilmu.
Bukan tembang, bukan kidung,
melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya,
mengambang di udara seperti serpihan mimpi
yang tak pernah selesai ditidurkan.
Kau mencoba menjadikannya doa.
Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh;
ia menetes di antara sela-sela tulang,
merembes perlahan
ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun.
Tubuhmu,
yang dulu kau banggakan sebagai altar,
kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali
semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan.
Ia berdengung pelan,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup
di tengah badai yang tak memilih korban.
Kau menyebutnya laku.
Padahal lebih tepat disebut pelarian.
Segala mantra yang kau pacu ke langit
jatuh kembali ke wajahmu,
meninggalkan jelaga tipis
yang tak pernah sempat kau bersihkan.
Ada malam-malam
ketika engkau merasa disentuh sesuatu
yang lebih tua dari dirimu sendiri.
Bukan dewa,
bukan malaikat,
hanya bayang yang ingin
menumpang tidur
di tubuh yang kau biarkan terbuka.
Setiap keinginan
meninggalkan lubang baru.
Setiap lubang
menuntut satu lagi bagian dari dirimu.
Begitu seterusnya,
hingga kau tak tahu lagi
mana yang lebih dalam:
hasratmu,
atau kehampaan yang memanggilmu pulang.
Ada denting jauh—
suara yang mengingatkanmu
betapa kecilnya engkau
di hadapan gelap yang terus tumbuh.
Gelap itu tidak mengancam.
Ia hanya menunggu.
Seperti seseorang yang tahu
bahwa semua jalan, pada akhirnya,
akan kembali kepadanya.
Kau pernah mengejar ekstase
seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit.
Kini engkau tahu:
setiap cahaya menyisakan abu,
dan abunya menempel di napasmu
sepanjang malam.
Ritual gagal.
Bukan karena kurangnya mantra,
melainkan karena tubuh
tak lagi percaya
pada apa pun selain retakan.
Engkau mencoba melupakan,
tapi bahkan lupa pun
memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Ia mengintai dari balik kelopak mata,
menunggu kau lengah
agar bisa merayap masuk
dan menduduki detak jantungmu.
Pada akhirnya,
semua suara yang kau puja
kembali padamu—
bukan sebagai wahyu,
melainkan sebagai sunyi
yang tak bisa kaubunuh.
Sunyi itu berdiri di ambang pintu,
mengangkat wajahnya perlahan,
dan kau melihat dirimu sendiri
di dalam retakannya.
Tidak ada ekstase.
Tidak ada penebusan.
Hanya tubuh
yang menua di hadapan gelap.
Dan gelap
yang sabar menunggu
kau berhenti melawan.
Desember 2025.”
―
“Variasi Suluk Tembang Raras – Genealogi Saras Dialogis
Saras berdiri di ambang pintu yang bahkan tidak ia kenali.
Di belakangnya masa lalu menetes seperti air yang sulit ia tampung;
di depannya masa kini bergetar, kabur, seolah baru saja dicetak dari
bayangan yang salah mengingat dirinya.
Ia tidak tahu pintu mana yang benar.
Ia hanya tahu retakan yang makin melebar itu menggigil,
memanggil sesuatu yang lebih tua dari bahasa,
lebih tajam dari ketakutan.
Maka muncullah suara pertama—dingin, berdebu,
seperti batu yang lama disembunyikan malam.
SUWUNG:
"Kau mencari jawaban, anak waktu.
Namun dirimu sendiri masih bayang di balik kaca.
Mana yang kau pilih: jejak yang tak dapat kembali,
atau dunia yang selalu mengkhianatimu dengan wujud baru?"
Saras menunduk. Ia tidak paham apakah ia sedang ditanya,
atau sedang dihakimi.
Lalu suara kedua muncul—lebih hangat,
lebih manusiawi, tapi tetap menyimpan sesuatu yang liar.
AMONGRAGA:
"Jangan kau kira masa kini lebih benar dari mimpimu.
Tubuhmu menyimpan ingatan yang lebih jujur dari akalmu.
Mengapa kau biarkan logika dan nafsu bertengkar
di ruang sempit dadamu?"
Saras menggigit bibirnya.
Ia tahu suara itu berbicara tentang kegelisahan
yang ia simpan seperti batu panas di bawah lidah:
keinginan untuk melompat ke gelap,
tapi juga ketakutan akan cahaya yang telanjang.
SARAS (berbisik):
"Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya.
Yang di masa lalu terasa asing,
yang di masa kini kabur,
yang di masa depan meragukan.
Semua pintu bagiku seperti ilusi."
Suara Suwung dan Amongraga saling bersilangan,
seperti dua arus sungai yang menolak bercampur.
SUWUNG:
"Itu karena kau terlalu percaya pada batas.
Hitam–putih hanyalah cara dunia memudahkan dirinya sendiri.
Kesadaranmu bukan padat, ia kabut; biarkan ia bentuk dirinya."
AMONGRAGA:
"Namun jangan abaikan tubuhmu.
Tubuh tahu duluan apa yang rohmu sembunyikan.
Tidak semua ilusi adalah kebohongan;
kadang ia hanya anak bungsu dari kenyataan."
Saras terdiam.
Ia tidak ingin menjadi perantara dua dunia;
Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Namun setiap kali ia mencari dirinya,
yang ia temukan adalah paradoks baru.
Suara Suwung merayap lembut:
SUWUNG:
"Ambang adalah rumahmu.
Kau bukan dicipta untuk memilih,
tetapi untuk mengungkap apa yang membuat pilihan itu mungkin."
Suara Amongraga menambahkan:
AMONGRAGA:
"Dan jangan takut pada keinginanmu sendiri.
Kadang nafsu lebih jujur daripada pikiran yang pura-pura bijak."
Saras mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kali, ia melihat bahwa retakan itu
bukan ancaman—melainkan peta.
Ia tidak perlu memilih pintu.
Ia adalah pintu itu sendiri.
Dan ketika ia menyadari itu,
suara Suwung dan Amongraga
tidak hilang atau pergi—
mereka kembali diam
di tempat mereka lahir:
kedalaman dirinya sendiri.
Desember 2025”
―
Saras berdiri di ambang pintu yang bahkan tidak ia kenali.
Di belakangnya masa lalu menetes seperti air yang sulit ia tampung;
di depannya masa kini bergetar, kabur, seolah baru saja dicetak dari
bayangan yang salah mengingat dirinya.
Ia tidak tahu pintu mana yang benar.
Ia hanya tahu retakan yang makin melebar itu menggigil,
memanggil sesuatu yang lebih tua dari bahasa,
lebih tajam dari ketakutan.
Maka muncullah suara pertama—dingin, berdebu,
seperti batu yang lama disembunyikan malam.
SUWUNG:
"Kau mencari jawaban, anak waktu.
Namun dirimu sendiri masih bayang di balik kaca.
Mana yang kau pilih: jejak yang tak dapat kembali,
atau dunia yang selalu mengkhianatimu dengan wujud baru?"
Saras menunduk. Ia tidak paham apakah ia sedang ditanya,
atau sedang dihakimi.
Lalu suara kedua muncul—lebih hangat,
lebih manusiawi, tapi tetap menyimpan sesuatu yang liar.
AMONGRAGA:
"Jangan kau kira masa kini lebih benar dari mimpimu.
Tubuhmu menyimpan ingatan yang lebih jujur dari akalmu.
Mengapa kau biarkan logika dan nafsu bertengkar
di ruang sempit dadamu?"
Saras menggigit bibirnya.
Ia tahu suara itu berbicara tentang kegelisahan
yang ia simpan seperti batu panas di bawah lidah:
keinginan untuk melompat ke gelap,
tapi juga ketakutan akan cahaya yang telanjang.
SARAS (berbisik):
"Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya.
Yang di masa lalu terasa asing,
yang di masa kini kabur,
yang di masa depan meragukan.
Semua pintu bagiku seperti ilusi."
Suara Suwung dan Amongraga saling bersilangan,
seperti dua arus sungai yang menolak bercampur.
SUWUNG:
"Itu karena kau terlalu percaya pada batas.
Hitam–putih hanyalah cara dunia memudahkan dirinya sendiri.
Kesadaranmu bukan padat, ia kabut; biarkan ia bentuk dirinya."
AMONGRAGA:
"Namun jangan abaikan tubuhmu.
Tubuh tahu duluan apa yang rohmu sembunyikan.
Tidak semua ilusi adalah kebohongan;
kadang ia hanya anak bungsu dari kenyataan."
Saras terdiam.
Ia tidak ingin menjadi perantara dua dunia;
Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Namun setiap kali ia mencari dirinya,
yang ia temukan adalah paradoks baru.
Suara Suwung merayap lembut:
SUWUNG:
"Ambang adalah rumahmu.
Kau bukan dicipta untuk memilih,
tetapi untuk mengungkap apa yang membuat pilihan itu mungkin."
Suara Amongraga menambahkan:
AMONGRAGA:
"Dan jangan takut pada keinginanmu sendiri.
Kadang nafsu lebih jujur daripada pikiran yang pura-pura bijak."
Saras mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kali, ia melihat bahwa retakan itu
bukan ancaman—melainkan peta.
Ia tidak perlu memilih pintu.
Ia adalah pintu itu sendiri.
Dan ketika ia menyadari itu,
suara Suwung dan Amongraga
tidak hilang atau pergi—
mereka kembali diam
di tempat mereka lahir:
kedalaman dirinya sendiri.
Desember 2025”
―
“Suluk Suwung: Percakapan yang Tak Pernah Selesai Antara Suwung dan Amongraga
1.
AMONGRAGA:
Aku mendengarmu dari jauh—
gema yang berjalan tanpa tubuh,
seperti bayang yang lupa asalnya.
Apa yang kau cari di celah-celah
gelap ini?
SUWUNG:
Aku tidak mencari.
Aku hanya diam.
Diam yang terlalu lama,
hingga berubah menjadi bentuk
yang tak punya nama.
2.
AMONGRAGA:
Diam juga bagian dari suluk.
Ia jembatan menuju terang.
Mengapa kau menjadikannya liang?
SUWUNG:
Karena terangmu terlalu ribut.
Dan setiap mantra yang kau sebut
meninggalkan debu di nafas manusia.
3.
AMONGRAGA:
Aku berjalan dari kidung ke kidung,
dari tubuh ke tubuh,
hingga segala kenikmatan
mengungkit pintu-pintu wahyu.
SUWUNG:
Aku tahu.
Itulah jejak yang kau tinggalkan
di dada sejarah.
Tapi apa yang kau temukan?
Selain tubuh yang terus meminta
tanpa pernah selesai?
4.
AMONGRAGA:
Aku mencari puncak.
Puncak yang melampaui dunia.
Di sanalah aku menanggalkan daging
seperti menanggalkan bayang-bayangku.
SUWUNG:
Dan aku mencari dasar.
Dasar yang menelan dunia.
Dasar tempat segala suara berhenti
dan hanya retakan yang berbicara.
5.
AMONGRAGA:
Retakan juga bisa menjadi jendela.
Mengapa kau memilih menjadikannya rumah?
SUWUNG:
Karena rumah yang kau buat
ditopang oleh api.
Aku lelah menjadi tubuh
yang terus kau bakar
demi sebuah cahaya
yang tak pernah sampai.
6.
AMONGRAGA:
Lalu mengapa kau datang padaku?
Mengapa engkau memanggil namaku
dari jauh—
seperti anak yang kehilangan jalan pulang?
SUWUNG:
Aku ingin tahu
apakah seseorang sepertimu
pernah merasa kosong.
Atau kau memang menutupinya
dengan nyala yang memabukkan.
7.
AMONGRAGA:
Aku tak pernah kosong.
Aku penuh.
Penuh dengan bunyi,
dengan tubuh-tubuh,
dengan api yang naik turun
seperti nafas yang tak mau padam.
SUWUNG:
Maka di sanalah perbedaan kita.
Engkau penuh.
Dan aku kosong.
Tapi keduanya
sama-sama tak menjawab
apa-apa.
8.
AMONGRAGA:
Apa itu yang kau sebut suwung?
Hening yang menolak segala bentuk?
SUWUNG:
Suwung adalah tempat
di mana setiap jawaban
mati sebelum sempat disebutkan.
Sebuah ruang
yang tidak ingin menang.
Tidak ingin selamat.
Tidak ingin terlahir kembali.
9.
AMONGRAGA:
Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku?
SUWUNG:
Aku ingin melihat
apa yang tetap berada pada dirimu
ketika seluruh kidungmu
aku bungkam.
Ketika seluruh tubuhmu
aku lepaskan.
Ketika seluruh cahaya
aku padamkan.
10.
AMONGRAGA:
Dan apa yang kau lihat?
SUWUNG:
Hanya satu hal:
bahwa bahkan engkau pun,
pada akhirnya,
adalah pintu yang tidak menuju
siapa-siapa.
11.
AMONGRAGA:
Jika aku pintu,
maka mengapa engkau tidak masuk?
SUWUNG:
Karena tidak ada apa pun di dalam.
Dan tidak ada apa pun di luar.
Yang ada hanyalah aku.
Dan bahkan aku
tidak sedang mencari diriku sendiri.
12.
AMONGRAGA:
Kalau begitu,
mengapa engkau tetap berdiri
di ambangku?
SUWUNG:
Karena di antara terangmu yang berisik
dan gelapku yang sunyi,
ambang adalah satu-satunya tempat
yang tidak memaksaku memilih.
13.
AMONGRAGA:
Engkau suluk yang patah.
Suluk yang menolak puncak.
SUWUNG:
Dan engkau
adalah doa yang terlalu keras
hingga lupa
bagaimana cara menjadi sunyi.
Desember 2025”
―
1.
AMONGRAGA:
Aku mendengarmu dari jauh—
gema yang berjalan tanpa tubuh,
seperti bayang yang lupa asalnya.
Apa yang kau cari di celah-celah
gelap ini?
SUWUNG:
Aku tidak mencari.
Aku hanya diam.
Diam yang terlalu lama,
hingga berubah menjadi bentuk
yang tak punya nama.
2.
AMONGRAGA:
Diam juga bagian dari suluk.
Ia jembatan menuju terang.
Mengapa kau menjadikannya liang?
SUWUNG:
Karena terangmu terlalu ribut.
Dan setiap mantra yang kau sebut
meninggalkan debu di nafas manusia.
3.
AMONGRAGA:
Aku berjalan dari kidung ke kidung,
dari tubuh ke tubuh,
hingga segala kenikmatan
mengungkit pintu-pintu wahyu.
SUWUNG:
Aku tahu.
Itulah jejak yang kau tinggalkan
di dada sejarah.
Tapi apa yang kau temukan?
Selain tubuh yang terus meminta
tanpa pernah selesai?
4.
AMONGRAGA:
Aku mencari puncak.
Puncak yang melampaui dunia.
Di sanalah aku menanggalkan daging
seperti menanggalkan bayang-bayangku.
SUWUNG:
Dan aku mencari dasar.
Dasar yang menelan dunia.
Dasar tempat segala suara berhenti
dan hanya retakan yang berbicara.
5.
AMONGRAGA:
Retakan juga bisa menjadi jendela.
Mengapa kau memilih menjadikannya rumah?
SUWUNG:
Karena rumah yang kau buat
ditopang oleh api.
Aku lelah menjadi tubuh
yang terus kau bakar
demi sebuah cahaya
yang tak pernah sampai.
6.
AMONGRAGA:
Lalu mengapa kau datang padaku?
Mengapa engkau memanggil namaku
dari jauh—
seperti anak yang kehilangan jalan pulang?
SUWUNG:
Aku ingin tahu
apakah seseorang sepertimu
pernah merasa kosong.
Atau kau memang menutupinya
dengan nyala yang memabukkan.
7.
AMONGRAGA:
Aku tak pernah kosong.
Aku penuh.
Penuh dengan bunyi,
dengan tubuh-tubuh,
dengan api yang naik turun
seperti nafas yang tak mau padam.
SUWUNG:
Maka di sanalah perbedaan kita.
Engkau penuh.
Dan aku kosong.
Tapi keduanya
sama-sama tak menjawab
apa-apa.
8.
AMONGRAGA:
Apa itu yang kau sebut suwung?
Hening yang menolak segala bentuk?
SUWUNG:
Suwung adalah tempat
di mana setiap jawaban
mati sebelum sempat disebutkan.
Sebuah ruang
yang tidak ingin menang.
Tidak ingin selamat.
Tidak ingin terlahir kembali.
9.
AMONGRAGA:
Jika begitu, apa yang kau inginkan dariku?
SUWUNG:
Aku ingin melihat
apa yang tetap berada pada dirimu
ketika seluruh kidungmu
aku bungkam.
Ketika seluruh tubuhmu
aku lepaskan.
Ketika seluruh cahaya
aku padamkan.
10.
AMONGRAGA:
Dan apa yang kau lihat?
SUWUNG:
Hanya satu hal:
bahwa bahkan engkau pun,
pada akhirnya,
adalah pintu yang tidak menuju
siapa-siapa.
11.
AMONGRAGA:
Jika aku pintu,
maka mengapa engkau tidak masuk?
SUWUNG:
Karena tidak ada apa pun di dalam.
Dan tidak ada apa pun di luar.
Yang ada hanyalah aku.
Dan bahkan aku
tidak sedang mencari diriku sendiri.
12.
AMONGRAGA:
Kalau begitu,
mengapa engkau tetap berdiri
di ambangku?
SUWUNG:
Karena di antara terangmu yang berisik
dan gelapku yang sunyi,
ambang adalah satu-satunya tempat
yang tidak memaksaku memilih.
13.
AMONGRAGA:
Engkau suluk yang patah.
Suluk yang menolak puncak.
SUWUNG:
Dan engkau
adalah doa yang terlalu keras
hingga lupa
bagaimana cara menjadi sunyi.
Desember 2025”
―
“IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT
Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir
Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam,
mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut.
Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu.
Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat:
satu mengikat layar ke Takdir Raja,
satu menengadah ke Laut Lepas—
mereka berbicara tanpa suara;
kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku.
“Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga.
“Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah.
Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat,
dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas.
Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa
Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah—
adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar.
Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar;
nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib.
Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam:
“Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.”
Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga.
Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri.
Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak,
kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak.
Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin
Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi,
pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin.
Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan.
“Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah.
“Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar.
Tuah menekan telapak pada Taming Sari—
sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja.
Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana.
Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya,
bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer:
yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia.
Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman
Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota.
Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati.
Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah.
Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut,
bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi.
Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam.
Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh.
Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya.
Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri
ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa.
Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang.
Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah:
“Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan.
Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!”
Desember 2025”
―
Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir
Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam,
mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut.
Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu.
Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat:
satu mengikat layar ke Takdir Raja,
satu menengadah ke Laut Lepas—
mereka berbicara tanpa suara;
kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku.
“Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga.
“Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah.
Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat,
dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas.
Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa
Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah—
adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar.
Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar;
nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib.
Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam:
“Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.”
Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga.
Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri.
Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak,
kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak.
Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin
Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi,
pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin.
Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan.
“Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah.
“Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar.
Tuah menekan telapak pada Taming Sari—
sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja.
Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana.
Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya,
bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer:
yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia.
Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman
Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota.
Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati.
Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah.
Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut,
bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi.
Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam.
Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh.
Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya.
Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri
ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa.
Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang.
Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah:
“Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan.
Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!”
Desember 2025”
―
“LAUT YANG MENGENANG
DUA BAYANGAN
Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan
Laut membuka kelopaknya pelan,
seperti ibu tua yang tak pernah berhenti
menyebut nama kedua anaknya
yang tak kunjung pulang.
Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu
mengiris fajar tipis—
di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab,
berdiri seperti kitab-kitab raksasa
yang menuliskan nasib manusia.
Gelombang itu tahu:
sebelum Tuah lahir dari sumpah
dan Jebat dari luka,
ada nadi besar yang tak berhenti memanggil—
nadi yang tak tunduk pada raja mana pun,
nadi yang menyimpan seluruh rahasia
tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat:
manusia, atau rasa takutnya sendiri.
Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman
Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah.
Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa,
menyilang di udara:
serak, cepat, waspada—
setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa.
Di pasar ikan yang licin,
tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang
dari sejarah yang tak ingin dilupakan.
Bocah-bocah menjerit di antara karung lada,
dan seorang perempuan tua
menawar kain sutra
dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan.
Di balik hiruk pikuk itu,
para syahbandar mencatat angka-angka
yang tak pernah memihak rakyat.
Pelayaran besar sedang berlangsung:
rempah bergerak,
emas bergerak,
manusia menggerak
dan digerakkan.
Dari tepi dermaga,
Tuah kecil dan Jebat kecil
memandang kapal-kapal tak dikenal,
merekam napas pertama mereka
kepada dunia.
Fragmen III — Istana:
Takut yang Menjadi Hukum
Dinding istana berlantai marmer dingin
menggemakan
bisik-bisik yang lebih tajam dari keris.
Para bendahara menggeser angka,
para pembesar menggeser kesetiaan,
para tabib menggeser kebenaran.
Raja duduk seperti bayang-bayang
yang ketakutannya menjelma jadi
ritual harian.
Setiap mata tertunduk—
bukan hormat,
melainkan ketakutan agar tidak
ikut ditarik ke liang intrik.
Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai,
dan keadilan hanyalah pantulan cahaya
dari lampu minyak yang hampir padam.
Tuah tumbuh di bawah atap ini—
belajar bahwa setia bisa berarti bisu,
bahwa patuh bisa berarti sekarat.
Sementara Jebat, di lorong lain,
belajar bahwa diam adalah dosa
yang diperintahkan oleh para penguasa
untuk melanggengkan ketidakadilan.”
―
DUA BAYANGAN
Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan
Laut membuka kelopaknya pelan,
seperti ibu tua yang tak pernah berhenti
menyebut nama kedua anaknya
yang tak kunjung pulang.
Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu
mengiris fajar tipis—
di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab,
berdiri seperti kitab-kitab raksasa
yang menuliskan nasib manusia.
Gelombang itu tahu:
sebelum Tuah lahir dari sumpah
dan Jebat dari luka,
ada nadi besar yang tak berhenti memanggil—
nadi yang tak tunduk pada raja mana pun,
nadi yang menyimpan seluruh rahasia
tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat:
manusia, atau rasa takutnya sendiri.
Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman
Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah.
Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa,
menyilang di udara:
serak, cepat, waspada—
setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa.
Di pasar ikan yang licin,
tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang
dari sejarah yang tak ingin dilupakan.
Bocah-bocah menjerit di antara karung lada,
dan seorang perempuan tua
menawar kain sutra
dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan.
Di balik hiruk pikuk itu,
para syahbandar mencatat angka-angka
yang tak pernah memihak rakyat.
Pelayaran besar sedang berlangsung:
rempah bergerak,
emas bergerak,
manusia menggerak
dan digerakkan.
Dari tepi dermaga,
Tuah kecil dan Jebat kecil
memandang kapal-kapal tak dikenal,
merekam napas pertama mereka
kepada dunia.
Fragmen III — Istana:
Takut yang Menjadi Hukum
Dinding istana berlantai marmer dingin
menggemakan
bisik-bisik yang lebih tajam dari keris.
Para bendahara menggeser angka,
para pembesar menggeser kesetiaan,
para tabib menggeser kebenaran.
Raja duduk seperti bayang-bayang
yang ketakutannya menjelma jadi
ritual harian.
Setiap mata tertunduk—
bukan hormat,
melainkan ketakutan agar tidak
ikut ditarik ke liang intrik.
Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai,
dan keadilan hanyalah pantulan cahaya
dari lampu minyak yang hampir padam.
Tuah tumbuh di bawah atap ini—
belajar bahwa setia bisa berarti bisu,
bahwa patuh bisa berarti sekarat.
Sementara Jebat, di lorong lain,
belajar bahwa diam adalah dosa
yang diperintahkan oleh para penguasa
untuk melanggengkan ketidakadilan.”
―
“LAUT YANG MENGENANG
DUA BAYANGAN
Fragmen IV — Dua Tubuh yang Saling Menghantui
Malam di istana jatuh seperti kapak.
Angin lembab membawa bau darah
yang belum mengering dari sejarah.
Di ruang sepi,
dua sosok berdiri—
bukan lagi Tuah dan Jebat,
melainkan dua luka yang mencari
siapa yang harus menanggung
cacat zaman ini.
Keris bergetar di tangan,
tapi yang sebenarnya mereka tusuk
adalah pertanyaan yang tak pernah dijawab:
Apakah kesetiaan
adalah memberi segala pada penguasa?
Ataukah kesetiaan
adalah membela manusia dari penguasanya?
Setiap langkah pecah seperti bongkah es di dasar sumur.
Setiap tatapan adalah cermin retak
yang memantulkan dua takdir
yang tak bisa berhenti
mencintai dan mengkhianati
dunia yang sama.
Fragmen V —
Rakyat: Bayang-Bayang
yang Tak Pernah Ditanya
Di luar istana,
rakyat berkumpul seperti kabut—
tak terlihat,
tapi menentukan musim.
Mereka mengasuh luka
yang diwariskan dari kerajaan
ke kerajaan,
dari penjajah ke penjajah,
dari pemimpin ke pemimpin
yang semuanya mengaku penyelamat.
Di pasar malam,
seorang lelaki kehilangan anaknya
karena jerat pajak yang terlalu tinggi.
Di kampung nelayan,
perempuan-perempuan menjerang air asin
untuk mengelabui rasa lapar.
Rakyat menonton duel Tuah–Jebat
melalui kabar yang tak pasti:
siapa bajingan?
siapa pahlawan?
siapa pembebas?
Atau mungkin pertanyaannya salah:
siapa yang sebenarnya memanfaatkan keduanya?
siapa yang menciptakan perpecahan ini
agar istana tetap aman
dan rakyat tetap tiarap?
Fragmen VI — Pertanyaan yang Diwariskan
Layar-layar modern berkedip
seperti kapal-kapal tua yang kembali dari perjalanan jauh.
Kita hidup di antara
penguasa yang tak takut pada rakyatnya,
dan rakyat yang diajari
untuk mencintai para penguasa
lebih dari dirinya sendiri.
Tuah hidup di kita
setiap kali kita memilih diam
atas ketidakadilan yang kita lihat.
Jebat hidup di kita
setiap kali kita berteriak
tanpa memahami bagaimana
suara kita dimanfaatkan.
Dan laut—
ah, laut itu masih memanggil,
seakan berkata:
“Anak-anakku,
kalian bertengkar terlalu lama
di atas geladak perahu yang sama.
Kalian lupa bahwa badai datang
tanpa memilih siapa yang setia
dan siapa yang memberontak.”
Kita berdiri di sini,
saksi tanpa nama,
penimbang tanpa mahkota:
Di manakah manusia seharusnya berdiri—
pada sumpah,
atau pada nurani?
Desember 2025”
―
DUA BAYANGAN
Fragmen IV — Dua Tubuh yang Saling Menghantui
Malam di istana jatuh seperti kapak.
Angin lembab membawa bau darah
yang belum mengering dari sejarah.
Di ruang sepi,
dua sosok berdiri—
bukan lagi Tuah dan Jebat,
melainkan dua luka yang mencari
siapa yang harus menanggung
cacat zaman ini.
Keris bergetar di tangan,
tapi yang sebenarnya mereka tusuk
adalah pertanyaan yang tak pernah dijawab:
Apakah kesetiaan
adalah memberi segala pada penguasa?
Ataukah kesetiaan
adalah membela manusia dari penguasanya?
Setiap langkah pecah seperti bongkah es di dasar sumur.
Setiap tatapan adalah cermin retak
yang memantulkan dua takdir
yang tak bisa berhenti
mencintai dan mengkhianati
dunia yang sama.
Fragmen V —
Rakyat: Bayang-Bayang
yang Tak Pernah Ditanya
Di luar istana,
rakyat berkumpul seperti kabut—
tak terlihat,
tapi menentukan musim.
Mereka mengasuh luka
yang diwariskan dari kerajaan
ke kerajaan,
dari penjajah ke penjajah,
dari pemimpin ke pemimpin
yang semuanya mengaku penyelamat.
Di pasar malam,
seorang lelaki kehilangan anaknya
karena jerat pajak yang terlalu tinggi.
Di kampung nelayan,
perempuan-perempuan menjerang air asin
untuk mengelabui rasa lapar.
Rakyat menonton duel Tuah–Jebat
melalui kabar yang tak pasti:
siapa bajingan?
siapa pahlawan?
siapa pembebas?
Atau mungkin pertanyaannya salah:
siapa yang sebenarnya memanfaatkan keduanya?
siapa yang menciptakan perpecahan ini
agar istana tetap aman
dan rakyat tetap tiarap?
Fragmen VI — Pertanyaan yang Diwariskan
Layar-layar modern berkedip
seperti kapal-kapal tua yang kembali dari perjalanan jauh.
Kita hidup di antara
penguasa yang tak takut pada rakyatnya,
dan rakyat yang diajari
untuk mencintai para penguasa
lebih dari dirinya sendiri.
Tuah hidup di kita
setiap kali kita memilih diam
atas ketidakadilan yang kita lihat.
Jebat hidup di kita
setiap kali kita berteriak
tanpa memahami bagaimana
suara kita dimanfaatkan.
Dan laut—
ah, laut itu masih memanggil,
seakan berkata:
“Anak-anakku,
kalian bertengkar terlalu lama
di atas geladak perahu yang sama.
Kalian lupa bahwa badai datang
tanpa memilih siapa yang setia
dan siapa yang memberontak.”
Kita berdiri di sini,
saksi tanpa nama,
penimbang tanpa mahkota:
Di manakah manusia seharusnya berdiri—
pada sumpah,
atau pada nurani?
Desember 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
