Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Rosli K. Matari.

Rosli K. Matari Rosli K. Matari > Quotes

 

 (?)
Quotes are added by the Goodreads community and are not verified by Goodreads. (Learn more)
Showing 1-30 of 32
“Kalau kukenang, dulu
tidak mudah untuk bertiarap,
mengengsot, merangkak,
berlunjur.

Alangkah payah
untuk bangun
berdiri menjadi manusia.

Tetapi betapa mudah pula
untuk menjadi tua.

(Sajak 2014, Mengenang Hari Lahir)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap
“Justeru, aku manusia
jiwa ini
tidak akan cukup
dengan bulan, terisi di kolam.

Aku ingin juga
menatap bintang
di tempat lain.

(Dunia Ini Panjang, Jauh)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Aku ingat lagi
dalam cahaya bulan, sayup malam
kau menyangkul, menanam
tabah lebih awal mengejar
jejak matahari.

(Sajak Buat Bapaku)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
tags: anak, ayah, bapa
“Usiaku sudah jauh
Bagai ke seberang sana.

Apa guna lagi berdayung cinta
Karam perahu, tenggelamlah aku.

(Bertemu Danau Ini)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
tags: cinta, usia
“Kita serumpun bertanam buluh.
Buluh akan patah, diserbu ribut, jika hidup sebatang.

Di belakang kita masih ada seribu rebung,
Kelak, semuanya boleh menjunjung langit.

(Ekspresionisme di Sibolangit)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“kalau tidak ada pensel
selalu tumpul dahulu,
aku tidak akan
sepandai ini
untuk menulis puisi.

(Petak, Garis)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Aku selalu ingat juga
pada daun kering,
hidup ini tidak panjang
bagai sependek ranting,
dan aku akan mati.

(Tiada Suatu Yang Kecil)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam.

(Arah Yang Tidak Pernah Ada)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Sekian lama,
aku sering lupa pada
jalan yang tidak akan berkelok,
tidak akan bersimpang lagi,
Terus lurus ke kubur,
di sanalah aku akan berhenti.

(Ke Mana Aku Akan Pergi)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“usia cepat pergi, hilang seperti bayang
meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang.

(Tangga dan Keladi)”
Rosli K. Matari, Anak Dusun
“Kauberikan aku,
jalan panjang, sayup-sayup
samar-samar hujungnya
ke baris akhir puisi.

Menelusur jalan berliku
menjadi
berkelok makna.

Kauberikan
gunung, kabus
menjadi huruf-huruf.

(Selamat Tinggal, Indonesia)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Segala yang berdosa itu
menyelit dalam samar,
berselindung di sebalik kelam,
tersembunyi dalam pekat hitam.

(Malam)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
tags: dosa, malam
“Perang membakar
rumah dan sekolah.

Huruf dan angka
menyala
hangus.

Yang akan ditinggalkan
untuk masa depan kami
bara dan arang.

(Ke Manakah Lagi?)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap
“Bahkan,bunga
mungkin ada
wangi lain,
sekalipun daun
tetap gugur.

(Aku Harus Pergi)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Perjalanan, memang akan seperti ini
titik ke titik, berjeda tengah henti.

(Matahari Sudah Hampir Jatuh)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Mayat dan selangka adalah jawapan terakhir,
Sesudah moral, dulu, kita anggap
Hanya sebagai hujung ekor tamadun.

(Tidakkah Kita Berada Di Sana?)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Aku tahu, di sana
aku akan mudah luluh
cair seperti lilin menyala.

Cukup untuk terbakar,
walau oleh sepatah huruf
daripada kata-kata rayu, cumbuan.”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
tags: iman, nafsu
“Saudara, kalau aku tertidur dan terdengar
bunyi aku patah, tolong kejutkan aku,"
mungkin begitu pesan ranting.

(Mungkin)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Selanjutnya adalah untuk menunggu
Terhakis, retak, berkecai, reput, dan hancur.”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kalau kau berdua
- Angin dan awan, bercantum dijadikan manusia
Percayalah,
Langit tentu sudah lama terbelah.

(Awan, Angin, Dan Bumi)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kita ratusan kaligrafi
tercatat merah
pada nisan-nisan berceracak tua.

(Broome)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Selebihnya lagi,
sejumlah besar, tebal
halaman sejarah penjajah
yang sudah berdebu.

Yang tidak boleh dipinda, dibaiki
apa-apa lagi,
termasuk koma dan noktah.

(Istana Maimon)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Tangga,
apakah harus kukatakan
padamu?
Kautahu, usahkan sebelah sepatu
aku pun boleh tercicir
di tengah jalan.

(Catatan Hujung Dinihari)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
tags: mati, puisi
“Kutatap senja.
Untuk melihatmu,
Renunglah pula dinihari
Untuk mengenangku.

(Benarkah Matahari Tersangat Pijar?)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap
“Begitulah manusia, sangat agung dalam sejarah
Dan sebahagian erti sejarah itu adalah darah

(Awan, Angin, Dan Bumi)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kauberikan buih berserakan
Untuk kuertikan apa sahaja.

Tetapi aku turut memerlukan rhu
Sebagai pembanding makna.

(Ingatan Terhadap Laut Yang Jauh)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap
“Kini kau terduduk di tengah-tengah batas
antara sempadan kota dan desa.

Kecar dan gondang terapung di kakimu
ruak dan sitar bertengger di bahumu.

Sempatkah kaubangun menggenggam semaian
sebelum menjelang pagi?

(Baruh)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Yang kaya ialah hati budi,
bakat dalang, dan tutur barinya
memberi bayang-bayang teladan
di muka kelir.

(Kenangan Menonton Wayang Kulit Dollah Baju Merah)”
Rosli K. Matari, Anak Dusun
“Mengapa alam yang hijau
Akan selalu berakhir
Dengan warna merah?

(Gunung Akan Menggelongsor)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh
“Berikanlah aku kulit kerang
Untuk selalu kuingat, hidup ini sementara.

Bagai pelangi akhirnya hilang
Bagai matahari akhirnya terbenam.

Kalau aku pergi lagi ke hadapanmu
Akan tertinggal tapakku di pasir.

(Ingatan Terhadap Laut Yang Jauh)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap

« previous 1
All Quotes | Add A Quote
Matahari Itu Jauh Matahari Itu Jauh
33 ratings
Mengingat Matahari Mengingat Matahari
13 ratings