Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Devania Annesya.
Showing 1-30 of 137
“We are somebody’s memories when we are gone,”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Sebab memintamu mencintaiku lagi adalah permintaan yang tak tahu diri. Maka kali ini biarkan aku terus mencintaimu meski kau tidak.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Kau membuatku percaya bahwa keajaiban itu ada. Kau membuatku merasa bahwa tidak ada salahnya menulis puisi cinta dan menyimpannya dalam botol kaca. Aku datang hanya untuk mengatakan itu. Karena selanjutnya, aku akan selalu membencimu di sisa hidupku.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Mungkin ada sesuatu yag tidak perlu diucapkan untuk didengar, mungkin ada sesuatu yang tidak perlu disampaikan untuk dipahami. Mungkin ada sesuatu yang tidak perlu disemai untuk kemudian tumbuh, bersemi. Rumit..., tetapi sederhana untuk sekedar dimengerti.”
― Maya Maia
― Maya Maia
“Terkadang hidup akan menjadi lebih mudah jika kita tidak dihadapkan pada banyak pilihan, benar bukan?”
― Ubur-Ubur Kabur
― Ubur-Ubur Kabur
“Aku merindukanmu...
Seperti tanah kering menanti hujan datang.
Aku merindukanmu...
Seperti pasir mendamba buih ombak tuk menyapu.
Aku merindukanmu...
Seperti ujung ranting pepohanan tak sabar menyambut
terbitnya fajar.
Aku merindukanmu...
Seperti biji mati yang merindu musim semi.
Aku merindukanmu...
Seperti virus mengkristal yang menunggu masa yang
tepat tuk kembali hidup.
Aku merindukanmu...
Seperti....
Seperti....
Seperti...
Aku merindukanmu...
Kupikir itu sudah lebih dari cukup.
Kupikir kamu sudah lebih dari cukup.
Kuharap aku sudah lebih dari cukup.”
― Elipsis
Seperti tanah kering menanti hujan datang.
Aku merindukanmu...
Seperti pasir mendamba buih ombak tuk menyapu.
Aku merindukanmu...
Seperti ujung ranting pepohanan tak sabar menyambut
terbitnya fajar.
Aku merindukanmu...
Seperti biji mati yang merindu musim semi.
Aku merindukanmu...
Seperti virus mengkristal yang menunggu masa yang
tepat tuk kembali hidup.
Aku merindukanmu...
Seperti....
Seperti....
Seperti...
Aku merindukanmu...
Kupikir itu sudah lebih dari cukup.
Kupikir kamu sudah lebih dari cukup.
Kuharap aku sudah lebih dari cukup.”
― Elipsis
“Kau masih mencintaiku sebesar kau membenciku. Tidak masalah... selama kau berada di sini, di sisiku. Teruslah membenciku, semaumu, aku tidak peduli.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Angin tak pernah mengeluh,
menghempas debu jalanan.
Hujan tak pernah lalai,
dalam rinai syahdu pun teruntai.
Dawai.
Damai.
Bumi enggan mengaduh,
barangkali sudah jengah diinjak dan diludah.
Barangkali demikian aku.
Dalam rindu kuku terendap waktu.”
― Elipsis
menghempas debu jalanan.
Hujan tak pernah lalai,
dalam rinai syahdu pun teruntai.
Dawai.
Damai.
Bumi enggan mengaduh,
barangkali sudah jengah diinjak dan diludah.
Barangkali demikian aku.
Dalam rindu kuku terendap waktu.”
― Elipsis
“Aku suka matamu. Seperti mata rusa. Rapuh sekaligus kuat.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Ada sesuatu yang tak pernah berakhir meski telah terhenti.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Rumah belum tentu adalah tempat bagi segala rasa bermuara. Rumah bisa jadi hanya sebuah bangunan yang diberi label 'rumah'.”
― Muara Rasa
― Muara Rasa
“Saat aku mengatakan hal itu, kumohon, dengarkan aku sebagai sahabat lamamu, bukan sebagai orang yang mencintaimu. Sebab dari sisi manapun... aku benci melihatmu bersedih.”
― Ubur-Ubur Kabur
― Ubur-Ubur Kabur
“Sebuah rindu kadang bisa tercipta tanpa tahu siapa yang dirindukan.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi? Kamulah yang terburuk! Karena kamu datang serupa angin, mengisi yang hampa, untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.”
― Maya Maia
― Maya Maia
“... di dunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa diubah: manusia-manusia yang hidup di masa lalu. Manusia-manusia yang memilih untuk tinggal dalam kenangan dan menutup mata pada kenyataan.”
― Muara Rasa
― Muara Rasa
“Aku tidak tahu betapa sakitnya perasaanmu saat itu, saat kau tahu... aku memutuskan untuk melupakanmu.”
― Ubur-Ubur Kabur
― Ubur-Ubur Kabur
“Doaku adalah agar Tuhan mengabulkan semua doa-doamu.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Kenapa penyesalan selalu ada di belakang? Sebab dengan demikian manusia belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Belajar bahwa kehilangan akan sedemikian sakit. Manusia kadang baru bisa menghargai sesuatu setelah terlepas dari genggamanannya.”
― Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak
― Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak
“Kepergianmu serupa kabut pagi yang ditampar mentari. Hilang seketika. Tak berbekas. Bahkan serasa tak pernah ada. Serupa mimpi yang musnah sesaat setelah mata terbuka. Kamu ada dalam ketiadaan. Kadang sengaja kembali kututup mataku. Mungkin dengan demikian kau akan muncul. Menemani sekejap. Namun, kau lagi-lagi hilang. Bahkan ketika kutengok setiap ruang dalam kepalaku, kau tak ada. Aku kehilangan tanpa memiliki. Ini bodoh.
Ini tidak masuk akal. Tak bisa kuhentikan.”
― Elipsis
Ini tidak masuk akal. Tak bisa kuhentikan.”
― Elipsis
“Jangan bicara terlalu banyak.
Karena kata-kata adalah penjara.
Membungkam rasa.
Mematikan indra.
Jangan melihat terlalu banyak.
Karena mata itu menipu.
Mengelabuhi.
Memanipulasi hati.
Jangan mendengar terlalu banyak.
Karena telinga sering salah.
Distraksi mengancam.
Peluk. Dekap. Rasakanlah.
Letakkan otakmu, hentikan dari kinerjanya.
Ada rasa yang perlu direkam dalam diam.”
― Elipsis
Karena kata-kata adalah penjara.
Membungkam rasa.
Mematikan indra.
Jangan melihat terlalu banyak.
Karena mata itu menipu.
Mengelabuhi.
Memanipulasi hati.
Jangan mendengar terlalu banyak.
Karena telinga sering salah.
Distraksi mengancam.
Peluk. Dekap. Rasakanlah.
Letakkan otakmu, hentikan dari kinerjanya.
Ada rasa yang perlu direkam dalam diam.”
― Elipsis
“Jejak ini mengendap sudah.
Tersapu habis buih.
Terpecah karang,
demikian tangis ini.
Peluk aku sebisamu.
Layaknya pasir pantai membenamkan mata kakiku.
Selagi kaki ini masih menjejak.
Selagi jantung masih berdetak.
Selagi bisa kita menderak jarak.
Menjadikannya serupa bisik serak.
Koyaklah waktu!
Jadikan ini milikmu!
Rengkuh…
Seharusnya ini milikmu.
Seandainya kamu tahu!
Bodohnya kamu…”
― Elipsis
Tersapu habis buih.
Terpecah karang,
demikian tangis ini.
Peluk aku sebisamu.
Layaknya pasir pantai membenamkan mata kakiku.
Selagi kaki ini masih menjejak.
Selagi jantung masih berdetak.
Selagi bisa kita menderak jarak.
Menjadikannya serupa bisik serak.
Koyaklah waktu!
Jadikan ini milikmu!
Rengkuh…
Seharusnya ini milikmu.
Seandainya kamu tahu!
Bodohnya kamu…”
― Elipsis
“Selama kau tidak memaafkan masa lalumu, kau akan terus menyakiti siapa pun yang mencintaimu.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Mengapa Tuhan menciptakan waktu? Waktu hanya akan merintangi banyak hal, seperti
batasan usia dan lain sebagainya. Waktu juga mampu menciptakan jarak tak kasat mata.”
― Elipsis
batasan usia dan lain sebagainya. Waktu juga mampu menciptakan jarak tak kasat mata.”
― Elipsis
“Kadang kita tidak menyadari kapan monster lahir dalam diri kita. Kadang kita tidak pernah menyadari momen di mana kita menyakiti orang-orang yang mencintai kita. Dan seringkali sudah terlambat ketika menyadainya. Semua sudah tidak sama lagi.”
― Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak
― Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak
“Maafkan aku karena telah mengabaikanmu.”
― Ubur-Ubur Kabur
― Ubur-Ubur Kabur
“Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu.
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
Cemasku…
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”
―
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
Cemasku…
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”
―
“Tidak akan ada yang lebih mencintaimu dibanding aku, kamu harus tahu itu.”
― X: Kenangan yang Berpulang
― X: Kenangan yang Berpulang
“Esensinya "akhir" adalah sebuah awal yang baru. Tidak ada yang perlu disesali dari "sebuah akhir", kecuali kalau kau mengakhirinya dengan cara yang salah, di waktu yang salah...”
―
―





